Tinggalkan Karier Mapan, Dua Wanita Ini Coba Peruntungan Jualan Roti [Giok4D Resmi]

Posted on

Sepasang wanita milenial rela tinggalkan karirnya yang mapan demi jualan roti. Beruntung, bisnisnya sukses dan diandalkan banyak orang.

Akhir-akhir ini mencari pekerjaan dirasa semakin sulit. Namun bagi mereka yang bernyali besar, kondisi ini justru semakin menantang.

Dua wanita millennial asal Singapura ini justru menjadi sorotan setelah memutuskan meninggalkan karirnya. Padahal keduanya memiliki pekerjaan yang cukup mapan.

Dilansir dari Business Insider, (20/1/2026), Liu Yi Wen, seorang pastry chef asal Taiwan yang pernah bekerja di dapur restoran Michelin-star. Sementara Au Hui Her sebelumnya berkecimpung di dunia farmasi internasional.

Keduanya merupakan sahabat dekat yang memutuskan untuk mendirikan sebuah toko roti. Toko yang diberi nama The Werdoughs itu dikelolanya secara penuh setelah meninggalkan pekerjaan utama keduanya.

Mengandalkan modal dari tabungan senilai Rp 1,3 miliar, pasangan ini membeli perlengkapan dapur. Mulai dari mixer ukuran industri hingga oven besar untuk membuat kue dalam partai banyak.

Keduanya juga menyewa tempat di Serangoon, Singapura untuk membuka toko pertamanya. Penamaan Weirdoughs juga diambil dari inspirasi eksperimen keduanya yang kerap membuat roti-roti unik.

Menu di The Weirdoughs merupakan kombinasi teknik pastry Prancis dan sentuhan rasa Asia. Pengunjung bisa menemukan roti sourdough dengan bahan lokal seperti jagung dan miso, madeleine dengan aroma khas maqaw (rempah Taiwan), hingga sandwich telur teh.

Namun bisnis mereka juga tak terlepas dari tantangan. Setiap hari keduanya harus bangun pukul 4 pagi dan mulai memanggang sebanyak 26 jenis pastry untuk dijajakan kepada pelanggannya.

Di akhir pekan, keduanya bahkan mengakui harus bersiap sejak pukul 1 pagi. Namun usahanya tak menghianati hasil, tokonya setidaknya selalu diantre sekitar 80-100 pengunjung setiap hari.

Jika dibandingkan dengan pekerjaannya sebelumnya, profesi yang dipilih keduanya tentang jauh lebih melelahkan. Jam kerja yang panjang serta upah yang hanya diambil 2.000 Dolar Singapura (setara Rp 26,4 juta) begitu kontras dengan pekerjaan yang mereka tinggalkan.

Baik Wen maupun Her keduanya tak menyesali keputusannya. Bahkan kini toko mereka justru diandalkan banyak komunitas untuk berkumpul dan pelanggannya yang butuh asupan roti sehat.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.