Air minum dalam kemasan masih banyak diandalkan. Namun penelitian terbaru justru mengungkap risiko berbahaya yang dapat terjadi dari konsumsi AMDK.
Konsumsi air mineral kemasan masih banyak diandalkan sebab dipercaya lebih higienis. Begitu pula dengan kemudahannya yang bisa dibeli dari minimarket mana pun.
Sehingga banyak air minum, terutama kemasan botolan, diandalkan untuk memenuhi kebutuhan asupan air setiap hari. Namun, temuan-temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa air botolan bukanlah sekadar cairan bening yang tak berbahaya.
Dilansir dari Ladbible, (5/1/2026), sejumlah mikroplastik dan nanoplastik telah terdeteksi di dalamnya, memicu peringatan dari para peneliti tentang potensi risiko kesehatan jangka panjang bagi konsumen.
Dalam penelitian terbaru, ditemukan bahwa satu liter air botolan rata-rata mengandung sekitar ratus ribu partikel plastik. Jumlahnya disebut jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Sebagian besar partikel tersebut adalah nanoplastik, yang sangat kecil dan sulit disaring oleh sistem pencernaan manusia. Mikroplastik dapat masuk ke dalam air minum kemasan melalui beberapa mekanisme.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Mulai dari dari abrasi botol plastik itu sendiri saat diproduksi, diangkut, disimpan di suhu panas, hingga saat dibuka dan ditutup berulang kali. Pada suhu tinggi, seperti saat botol disimpan di dalam mobil, pelepasan partikel plastik ke dalam air juga meningkat.
Sejauh ini, bukti ilmiah masih berkembang, tetapi sejumlah studi menunjukkan bahwa paparan mikroplastik dapat berdampak pada kesehatan. Seperti menyebabkan peradangan, stres oksidatif, gangguan hormonal, dan bahkan telah dikaitkan dengan risiko penyakit kronis seperti kanker dan gangguan sistem saraf dalam studi hewan.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa risiko kesehatan dari mikroplastik dalam air minum saat ini diperkirakan rendah. Tetapi tetap ditegaskan bahwa studi lebih lanjut diperlukan untuk memahami efek jangka panjangnya.
Sebagai perbandingan, beberapa penelitian juga mencoba membandingkan air kemasan dengan air keran. Hasilnya menunjukkan air botolan mengandung lebih banyak partikel plastik dibandingkan dengan air keran yang disaring.
Namun risiko paparan mikroplastik ini bisa dicegah dengan berbagai cara. Salah satu langkah sederhananya ialah terbiasa membawa botol minum sendiri dengan bahan stainless steel atau botol kaca.
Selain itu jika masih mengonsumsi air minum kemasan, sebaiknya memerhatikan tempat penyimpanannya. Jangan sampai botol air kemasan terpapar suhu panas yang dapat meningkatkan risiko paparan mikroplastiknya.






