Sering Dianggap Sehat, 5 Jenis Makanan Ini Malah Dihindari Orang ‘Tajir’

Posted on

Sejumlah chef pribadi yang melayani klien kelas atas, atlet elite, hingga figur hiburan ternama, mengungkap bahwa tidak semua makanan berlabel sehat benar-benar dikonsumsi oleh para klien mereka yang berasal dari kalangan atas. Ternyata ini alasannya.

Dilansir dari Fox News (21/01/2026), Richard Ingraham, yang berprofesi sebagai chef pribadi untk atlet NBA Dwyane Wade, menyebut klien dari kalangan atas lebih mengedepankan performa dan umur panjang ketika memilih menu makanan yang mereka inginkan. Sehingga tak semua makanan dikonsumsi oleh kalangan atas, meskipun makanan tersebut dianggap sehat atau mahal.

Pandangan serupa disampaikan Serena Poon, chef pribadi sekaligus ahli gizi yang pernah bekerja dengan atlet Tom Brady dan aktris Hollywood Sofía Vergara.

Keduanya menilai banyak produk sehat modern sebenarnya sangat tidak sehat dan tidak mendukung energi, pencernaan, serta kesehatan jangka panjang.

Berikut lima daftar makanan sehat yang ternyata dihindari oleh orang kaya dan selebriti menurut para chef.

1. Plant-Based Meat

Daging nabati atau dikenal juga dengan sebutan ‘plant-based meat’ menjadi salah satu produk yang kerap dihindari orang-orang dair kalangan atas.

Richard Ingraham menyebut banyak produk ini kerap dipasarkan sebagai makanan sehat, padahal melalui proses rekayasa dan pengolahan yang panjang.

Sementara itu Serena Poon menilai label makanan dengan klaim rendah lemak atau tinggi protein sering menyesatkan. Produk tersebut biasanya kehilangan struktur alami dan ditambahkan berbagai zat aditif.

Selain itu, kandungan natrium dan lemak jenuhnya cenderung tinggi. Beberapa produk ‘plant-based meat’ juga berpotensi kekurangan nutrisi penting seperti vitamin B12 dan zat besi. Sehingga menu ini kerap dihindari meski dianggap sebagai makanan sehat.

2. Protein Bar dan Produk Protein Kemasan

Meski protein menjadi prioritas dari menu harian kalangan atas, protein bar dan camilan tinggi protein kemasan jarang tersedia di dapur klien elite.

Ingraham menyebut klien lebih memilih sumber protein dari makanan utuh yang mudah dikenali. Makanan utuh misalnya daging ayam dan ikan dinilai melepas asam amino lebih bertahap dibanding protein bubuk.

Hal ini lah yang diyakini bahwa makanan alami dengan kandungan protein, lebih baik dibandingkan makanan kemasan yang berlabel protein tinggi.

Karena makanan alami atau ‘real food’ dapat menjaga energi tubuhi lebih stabil, mengurangi lonjakan gula darah, serta mendukung pemulihan tubuh dalam jangka panjang secara konsisten.

3. Produk Rendah Lemak dan Makanan Diet

Makanan dengan label rendah lemak atau diet justru jarang ditemukan di dapur klien kelas atas. Richard Ingraham menjelaskan, ketika lemak dihilangkan, produsen biasanya menambahkan gula, pati, atau bahan lain agar rasa tetap enak.

Chef pribadi bernama Adam Kelton juga menyebut kliennya yang kebanyakan berasal dari kalangan atas lebih memilih makan ‘real food’ dalam porsi kecil, dibandingkan menyantap makanan dengan label rendah lemak dalam porsi besar.

Hal tersebut dikarenakan lemak sehat berperan penting dalam membantu tubuh menyerap vitamin A, D, E, dan K. Jika asupan lemak terlalu rendah, risiko kekurangan nutrisi meningkat. Selain itu, makanan rendah lemak cenderung kurang mengenyangkan sehingga memicu rasa lapar lebih cepat dan potensi makan berlebihan lebih tinggi.

4. Granola dan Sereal Organik

Granola dan sereal kemasan termasuk yang berlabel organik atau premium, juga sering dihindari klien dari kalangan atas. Menurut para chef pribadi, produk ini kerap mengandung gula tambahan yang cukup tinggi, meski dipasarkan sebagai menu sarapan sehat.

Richard Ingraham menuturkan kliennya lebih memilih oat polos dan makanan sederhana seperti kaldu tulang untuk sumber energi. Ia bahkan membuat granola sendiri agar kandungan gula dan bahan tambahannya terkontrol.

Salah satu klien Adam Kelton menyebut granola kemasan sebagai makanan manis yang hanya terlihat sehat. Bagi klien yang fokus pada pola makan sehat, pemilihan makanan jadi hal penting karena klien harus menjaga energi stabil sepanjang hari.

5. Smoothie dan Detoks Berlebihan

Meski kerap dianggap sebagai minuman sehat, smoothie rupanya juga dihindari oleh beberapa orang di kalangan atas. Begitu juga dengan program detoks yang justru dihindari.

Richard Ingraham menilai makanan cair seperti smoothies memang kurang memberikan rasa kenyang karena tidak melibatkan proses mengunyah, sehingga rasa lapar cepat kembali.

Adam Kelton menambahkan, sebagian besar kliennya lebih memilih minum air putih, kopi, atau teh. Sementara menurut Serena Poon, bahwa kesehatan jangka panjang tidak dibangun dari solusi instan dengan proses detoks menggunakan jus atau smoothie.

Ia menyarankan pola makan konsisten dengan bahan makanan alami atau ‘real food’ yang kaya kaya serat, makanan dengan protein berkualitas, dan lemak sehat. Makanan cair berlabel sehat justru berisiko memicu kelelahan dan keinginan makan berlebih.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

4. Granola dan Sereal Organik

Granola dan sereal kemasan termasuk yang berlabel organik atau premium, juga sering dihindari klien dari kalangan atas. Menurut para chef pribadi, produk ini kerap mengandung gula tambahan yang cukup tinggi, meski dipasarkan sebagai menu sarapan sehat.

Richard Ingraham menuturkan kliennya lebih memilih oat polos dan makanan sederhana seperti kaldu tulang untuk sumber energi. Ia bahkan membuat granola sendiri agar kandungan gula dan bahan tambahannya terkontrol.

Salah satu klien Adam Kelton menyebut granola kemasan sebagai makanan manis yang hanya terlihat sehat. Bagi klien yang fokus pada pola makan sehat, pemilihan makanan jadi hal penting karena klien harus menjaga energi stabil sepanjang hari.

5. Smoothie dan Detoks Berlebihan

Meski kerap dianggap sebagai minuman sehat, smoothie rupanya juga dihindari oleh beberapa orang di kalangan atas. Begitu juga dengan program detoks yang justru dihindari.

Richard Ingraham menilai makanan cair seperti smoothies memang kurang memberikan rasa kenyang karena tidak melibatkan proses mengunyah, sehingga rasa lapar cepat kembali.

Adam Kelton menambahkan, sebagian besar kliennya lebih memilih minum air putih, kopi, atau teh. Sementara menurut Serena Poon, bahwa kesehatan jangka panjang tidak dibangun dari solusi instan dengan proses detoks menggunakan jus atau smoothie.

Ia menyarankan pola makan konsisten dengan bahan makanan alami atau ‘real food’ yang kaya kaya serat, makanan dengan protein berkualitas, dan lemak sehat. Makanan cair berlabel sehat justru berisiko memicu kelelahan dan keinginan makan berlebih.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi