Harga ramen di restoran ini jadi sorotan luas karena sistemnya yang unik. Jika pilih bahasa berbeda, maka harganya bisa dua kali lipat lebih mahal! Kok bisa ya?
Sebuah restoran ramen di Osaka, Jepang menjadi perbincangan setelah menerapkan perbedaan harga berdasarkan pilihan bahasa pada saat pemesanan. Hal ini menarik perhatian wisatawan dan warga lokal, karena harga makanan yang sama bisa berubah drastis tergantung bahasa yang dipilih.
Bermula dari sebuah gerai ramen di Osaka yang menyediakan kios digital untuk pemesanan makanan. Ketika pengunjung memasuki kios tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih bahasa. Jika memilih bahasa Jepang, harga ramen akan tampil di kisaran ¥1.000 (sekitar Rp122.000).
Sebaliknya, ketika pengunjung memilih bahasa selain Jepang, harga yang tercantum menjadi ¥2.000 (sekitar Rp244.000). Perbedaan harga ini membuat banyak orang terkejut, apalagi jumlahnya mencapai dua kali lipat.
Manajer restoran menjelaskan bahwa perbedaan harga bukan semata soal diskriminasi, melainkan terkait perbedaan produk dan bahan yang dipilih.
Menurutnya, menu yang muncul saat bahasa selain Jepang dipilih tidak sama persis dengan menu versi lokal, baik dari segi bahan maupun porsi. Menu tersebut diklaim menggunakan bahan berbeda dan memiliki biaya produksi yang lebih tinggi. Itulah sebabnya harga menjadi lebih mahal dua kali lipat.
Dilansir dari Mothership (8/1), seluruh pengunjung yang memilih bahasa selain Jepang akan diperingatkan harus membayar lebih sebelum menyelesaikan transaksi. Praktik ini tidak berjalan mulus. Pada 4 Januari 2026, seorang wisatawan asal China mengalami kesalahpahaman saat memesan ramen dengan pilihan bahasa asing.
Ia mengaku tidak menyadari adanya perbedaan harga yang signifikan dan kemudian meminta pengembalian selisih harga kepada pihak restoran setelah menyadari bahwa tagihan yang harus dibayar jauh lebih tinggi daripada harga menu sejenis di versi bahasa Jepang.
Permintaan tersebut ditolak oleh restoran dengan alasan bahwa ramen yang dibeli memang berbeda.
Ketidakpuasan wisatawan tersebut memuncak, sampai melibatkan pihak kepolisian. Dari insiden tersebut, pihak restoran menyatakan sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya.
Dikabarkan mereka mempertimbangkan menolak kunjungan wisatawan China, tapi belum ada kejelasan apakah hal ini benar-benar akan diimplementasikan atau tidak, seperti dilaporkan TV Asahi.




