Mengenal Baby Ahnan, Sosok di Balik Pia Apple Pie Legendaris di Bogor

Posted on

Suatu hari pada 1999, Baby Ahnan berhenti di sebuah hotel bintang lima. Di balik kaca etalase, sepotong apple pie tampak mengilap, harum kayu manisnya menembus jarak. Baby, perempuan kelahiran Gorontalo, 10 November 1956, terpikat sejak pandangan pertama. Tapi harga yang tertera membuatnya tercekat: Rp 35 ribu per potong.

Dari kekaguman dan kegetiran itulah ide sederhana muncul: membuat sendiri apple pie yang renyah, enak, sekaligus terjangkau bagi banyak orang.

“Ibu berhasil membuat konsep pie yang murah, renyah, dan lezat. Harganya cuma Rp 9.800 sehingga bisa dikonsumsi semua kalangan,” kata Nina, manajer PIA Apple-Pie, kepada infofood, Kamis (27/11/2025).

Semula ia hanya khusus melayani pesanan lewat telepon rumah. Lama-lama, aroma dan cita rasa kelezatan kue olahannya menguar ke banyak tempat. Baby akhirnya membuka gerai kecil di jantung Kota Bogor, Jalan Pangrango No. 10-lokasi yang hingga kini menjadi semacam titik ziarah pencinta pie.

Produksi mulai dikerjakan lebih serius. Anggit Bestari, putri sulung Baby, mengenang awal masa-masa itu. Lima karyawan pertama direkrut dari tetangga-tetangga dekat, para ibu rumah tangga yang membutuhkan penghasilan tambahan.

“Tim produksinya terdiri dari sepasukan ibu-ibu perkasa, pejuang keluarga dengan berbagai problem di belakangnya,” tulis Anggit dalam katalog pameran lukisan “Hanya Mawar”, karya Baby Ahnan, yang dibuka di Revoluta Art Space, The Ritz-Carlton Jakarta, Jumat (28/11/2025).

Tak berhenti pada ibu-ibu, Baby membuka pintu bagi siapa pun-tanpa melihat ijazah, tanpa menilai masa lalu. “Ada anak-anak muda mantan preman, okem, anak jalanan bertato,” ujar Anggit. Yang penting jujur dan bersedia bekerja keras.

Baby bukan lulusan sekolah kuliner. Ia adalah alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB-lebih akrab dengan kanvas ketimbang timbangan kue. Tapi justru karena itu, ia memandang dapur sebagai ruang kreasi. Ia menyusun alur kerja seperti menyusun komposisi visual. Langkah demi langkah digambar agar mudah diikuti para ibu yang lebih nyaman memahami visual dibanding tulisan.

Eksperimen demi eksperimen dilakukan bersama tim produksi. Baby mencatat, menguji, mengunci resep. Ia belajar administrasi, rantai pasok, pembukuan, dan manajemen-sesuatu yang dulu tidak ia sentuh karena, katanya, “saya tidak terlalu suka hitung-hitungan.”

Tapi kerja keras itu berbuahkan reputasi. PIA Apple-Pie menjelma ikon kuliner Bogor. Apple pie, chicken pie, biskuit pie, hingga picnic roll, keluar dari oven seperti rangkaian cerita yang tak pernah putus. Dari satu gerai, berkembang menjadi tujuh gerai sebelum pandemi.

Pasca pandemi Covid-19, kini tersisa lima: PIA Apple-Pie, Macaroni Panggang Salak, Lasagna Gulung, MP-Steak, dan Macaroni Panggang Bina Marga.

“Untuk menjaga kualitas, kami mencari bahan baku yang stabil. Bahkan turun ke pasar untuk memilah sendiri,” kata Nina. Tes rasa dilakukan berkala, sementara takaran resep dikunci rapat agar konsistensi tetap terjaga.

Dari hasil penjualan kue, Baby membesarkan dua anaknya. Tapi lebih dari itu, ia menghidupi orang lain: karyawan yang kemudian mendapatkan beasiswa, bonus, bahkan kesempatan umrah. “Program Umroh pernah beberapa kali dilakukan dengan jumlah terbanyak 22 orang. Ada pembagian sembako tiap bulan, bonus, hingga pelesiran bersama,” tutur Anggit.

Baby juga menggagas penjualan nasi murah sepekan sekali-yang kini digelar sebulan sekali-agar tim dapat berinteraksi dengan anak-anak jalanan di sekitar wilayah Bogor. Ada pula program kunjungan ke rumah sakit jiwa, panti jompo, dan panti asuhan. Setiap menjelang Ramadan, anak-anak jalanan diundang makan dalam tradisi Munggahan.

Di balik kesibukan mengelola bisnis kuliner, Baby Ahnan merawat dunia lain: sastra. Menggunakan nama pena Kembang Manggis, ia menulis cerpen, dongeng, hingga novel. Karyanya antara lain Tia, Burung-Burung Kecil, Warisan, Desaku, serta lima buku dongeng Nusantara seperti Lutung Kasarung, Leugli, Cindelaras, dan Jaka Tarub. Terbaru, ia menerbitkan kumpulan cerpen Sketsa-Sketsa melalui Gramedia.

Memasuki usia ke-69, gairah masa remajanya terus mengusik. Melukis dan membuat pameran tunggal. Jumat kemarin, cita cita terwujudkan. Sebanyak 69 lukisan karyanya, “Hanya Mawar” dipamerkan di Revoluta Art Space, The Ritz-Carlton, Jakarta.

Sistem dari Seorang Seniman

Menghidupi Banyak Jalan Hidup

Tiga Dunia: Kue, Kata, dan Lukisan

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi