Sedang viral Plenger Cookies yang dijual oleh bocah 11 tahun di TikTok. Cookies tersebut lantas menarik perhatian reviewer Codeblu. Begini komentarnya!
Codeblu dikenal sebagai seorang pengulas makanan yang aktif di akun Instagram dan TikTok. Beberapa ulasannya menarik perhatian lantaran gaya bicara dan pemberian rating rendah kepada beberapa usaha kuliner.
Bahkan ulasan buruk dari Codeblu sempat membuat warung steak kaki lima hampir bangkrut. Ia juga sempat membongkar kondisi dapur jorok dari salah satu brand makanan nasi ayam rice bowl ternama.
Baru-baru ini, ia kembali menarik perhatian banyak orang lewat ulasannya terhadap merek cookies yang sedang viral. Cookies tersebut bernama Plenger Cookies yang viral lewat video-videonya di akun TikTok @plengerfamily.
Cookiesnya memang belakangan ini sedang menjadi perbincangan banyak orang lantaran dijual oleh seorang anak berusia 11 tahun. Nama dan merek unik pemiliknya juga semakin membuat penasaran.
Berikut fakta-faktanya:
Plenger Cookies merupakan produk yang dijual oleh seorang anak kecil bernama Jane. Jane awalnya sering muncul dalam akun TikTok keluarga @plengerfamily. Sesuai nama akunnya, keluarga ini memang punya brandingan ‘plenger’ yang sering digambarkan sebagai tingkah seseorang yang random, lucu, atau aneh.
Kemunculan Jane pun mencuri perhatian. Sebab, di usianya yang masih sangat muda, Jane menjalani homeschooling sambil berjualan cookies.
Jane diketahui punya bakat dalam dunia baking. Ibunya sempat mengunggah momen ketika Jane berusia 10 tahun, dirinya sudah bisa membuat brownies sendiri tanpa bantuan.
Jane juga tampaknya sudah beberapa kali membuat berbagai macam kreasi kue. Terbaru, ia menjual cookies atau kue kering yang dinamai ‘Plenger Cookie.’
Pada beberapa unggahan video di TikTok, Jane memang terlihat mandiri membuat cookies tersebut. Dalam salah satu unggahan (29/12/2025), Jane juga terlihat santai habis mengerjakan pesanan 4 stoples cookies. ia diketahui sudah mulai baking dari pukul 09.30 – 15.00 WIB.
Meskipun banyak netizen mempermasalahkan keputusan Jane dan keluarganya untuk homeschooling maupun jualan cookies, hal ini tidak mengurungkan niatnya untuk semangat berjualan.
Di akun TikTok @plengerfamily (26/12/2025), Jane memperkenalkan produk cookiesnya dengan mengungkap, “Nih temen-temen produk baru aku yang udah launching. Plenger cookies. Nah banyak yang ngata-ngatain aku plenger kan, yaudah aku bikin aja plenger cookies.”
Dalam setiap kemasan cookies jualannya, Jane dan keluarga juga menyertakan cerita di balik brand Plenger Cookies tersebut.
“Cerita di balik orang Plenger. Plenger adalah hujatan yang kami terima dari netizen dan kamu mengubah hujatan tersebut menjadi kegiatan usaha yang positif yang bisa membantu dan membawa rezeki buat orang banyak,” tulis penjelasannya.
Pesan positif juga ditulis oleh mereka yang berbunyi, “Ketika seseorang melempar ilmu batu, ambil batu tersebut dan ubah menjadi karya yang bernilai dan ucapkan berkat kepada orang yang melemparimu dengan batu.”
Cookies yang ditawarkan Jane tidak dibuat sembarangan. Bocah 11 tahun itu membuat cookiesnya menggunakan bahan-bahan yang lebih premium.
Untuk bahan gula, mereka tidak menggunakan gula putih melainkan gula organik yaitu gula aren. Cookiesnya juga dibuat menggunakan bahan-bahan halal.
Plenger cookies tersebut dijual dalam dua macam ukuran. Ada yang besar dengan isian berat 270 gram seharga Rp 50 ribu. Sedangkan ecerannya atau di plastik kecil-kecil, Jane menjualnya seharga Rp 5 ribuan.
“Nah kalau mau plastik kecil-kecil bisa, harganya 5 ribu. Tapi kecil, jangan protes,” ujarnya.
Plenger Cookies ini bentuknya seperti kue kering sehingga aman dikirim ke seluruh Indonesia.
Sekalipun produk ini dijual oleh anak berusia 11 tahun, kualitas dan keamanannya tetap diperhatikan. Dalam setiap kemasan, mereka menyertakan tanggal produksi dan expired. Kurang lebih cookies ini tahan selama tiga minggu.
Jika usaha ini berjalan dengan baik, Jane mengungkap akan mengurus usahanya supaya ada izin resminya.
Jane mengungkap beberapa cookies sudah diterima pelanggan. sejauh ini review yang ia terima bagus.
Salah satu pelanggan sempat memberi ulasan, “Suka banget!! lumayan banyak juga ya isinya. Enak juga walaupun sudah kenyang ga bisa berhenti.”
Jane juga mendapat sedikit evaluasi karena beberapa mendapati cookiesnya hancur.
Ke depannya Jane akan menambah bubble wrap dan menambah stiker Fragile agar saat pengiriman cookiesnya tidak dilempar sembarangan.
Dalam unggahan di akun Tiktok @codebluuuu (15/1), ia terlihat membeli plenger cookies ini.
Reviewer itu pun menulis komentar, “Ini anak umur 11th, dibully dan bisa bikin business dari pengalaman tersebut, sangat patut di puji.”
Codeblu memujinya ‘story telling’ di balik brand tersebut yang ditulis di kemasannya. Cookiesnya juga sedikit hancur.
Soal rasa menurut Codeblu minyaknya sedikit ‘nyangkkut’ di tenggorokan. Tekstur renyah dan rasa arennya juga terasa.
Secara keseluruhan, Code Blu memberi penilaian 7.5 / 10 untuk Plenger Cookies.
Codeblu memuji usaha Jane yang bisa berjualan cookies di usia belia. Tetapi ada beberapa penilaian atau masukan dari Codeblu yang perlu diperhatikan lagi oleh Jane.
Menurutnya brandingnya sangat kurang. Sebab istilah ‘Plenger’ tidak menjelaskan dagangannya sama sekali. Codeblu menyarankan agar namanya diganti yang lebih mewakili.
Untuk story tellingnya bagus dan menurutnya pintar. Namun packagingnya masih sangat kurang.
“Judulnya jangan toples, orang pikir pakai stoples beneran, sticker dibuat aja investasi ga mahal kok itu paling 2-3% dari cost,” tulisnya dalam komentar.
Soal kualitas, menurut reviewer ini masih sangat kurang. Karena pakai plastik jadi sampai ke pelanggan sudah setengah hancur.
“Experience cookiesnya kurang kena, berasa makan kremes daripada cookies,” lanjutnya/
Codeblu juga memberi saran dari pandangan bisnis. Menurutnya usaha ini harus diseriuskan untuk menjadi penghasilan tetap.
“Di dunia business ga pandang umur ga pandang bulu, kalau usaha untung rugi orang gak liat umur kamu, so position yourself as an adult not a child,” ujar Codeblu.
Soal pelayanan ke pelanggan juga menurutnya harus diperbaiki karena kurang proaktif. Begitu juga dengan ‘product knowledge’ yang perlu diperhatikan.
1. Produk cookies dijual bocah 11 tahun
2. Cerita di balik nama produk yang unik
3. Cookies dibuat dengan bahan premium
4. Ulasan Codeblu mencicipi Plenger Cookies
5. Masukan dari Codeblu terhadap Plenger Cookies




Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Dalam unggahan di akun Tiktok @codebluuuu (15/1), ia terlihat membeli plenger cookies ini.
Reviewer itu pun menulis komentar, “Ini anak umur 11th, dibully dan bisa bikin business dari pengalaman tersebut, sangat patut di puji.”
Codeblu memujinya ‘story telling’ di balik brand tersebut yang ditulis di kemasannya. Cookiesnya juga sedikit hancur.
Soal rasa menurut Codeblu minyaknya sedikit ‘nyangkkut’ di tenggorokan. Tekstur renyah dan rasa arennya juga terasa.
Secara keseluruhan, Code Blu memberi penilaian 7.5 / 10 untuk Plenger Cookies.
Codeblu memuji usaha Jane yang bisa berjualan cookies di usia belia. Tetapi ada beberapa penilaian atau masukan dari Codeblu yang perlu diperhatikan lagi oleh Jane.
Menurutnya brandingnya sangat kurang. Sebab istilah ‘Plenger’ tidak menjelaskan dagangannya sama sekali. Codeblu menyarankan agar namanya diganti yang lebih mewakili.
Untuk story tellingnya bagus dan menurutnya pintar. Namun packagingnya masih sangat kurang.
“Judulnya jangan toples, orang pikir pakai stoples beneran, sticker dibuat aja investasi ga mahal kok itu paling 2-3% dari cost,” tulisnya dalam komentar.
Soal kualitas, menurut reviewer ini masih sangat kurang. Karena pakai plastik jadi sampai ke pelanggan sudah setengah hancur.
“Experience cookiesnya kurang kena, berasa makan kremes daripada cookies,” lanjutnya/
Codeblu juga memberi saran dari pandangan bisnis. Menurutnya usaha ini harus diseriuskan untuk menjadi penghasilan tetap.
“Di dunia business ga pandang umur ga pandang bulu, kalau usaha untung rugi orang gak liat umur kamu, so position yourself as an adult not a child,” ujar Codeblu.
Soal pelayanan ke pelanggan juga menurutnya harus diperbaiki karena kurang proaktif. Begitu juga dengan ‘product knowledge’ yang perlu diperhatikan.
4. Ulasan Codeblu mencicipi Plenger Cookies
5. Masukan dari Codeblu terhadap Plenger Cookies






