Chef Ungkap 5 Kebiasaan Masak yang Jangan Lagi Dilakukan

Posted on

Beberapa chef mengungkap kebiasaan dapur yang sebaiknya ditinggalkan, dari teknik memasak hingga pemilihan alat dan bahan agar hasil masakan lebih maksimal.

Masak di rumah kini jadi bagian dari gaya hidup banyak orang. Namun tanpa disadari, ada kebiasaan dapur yang justru merusak hasil masakan.

Mulai dari salah pilih alat, teknik, hingga bahan, kesalahan kecil bisa berdampak besar. Rasa makanan berubah dan proses memasak jadi kurang efisien.

Sejumlah chef profesional pun menyoroti kebiasaan dapur yang sebaiknya ditinggalkan. Tujuannya agar masakan lebih aman, lezat, dan konsisten.

Memasuki 2026, kebiasaan memasak yang perlu ditinggalkan adalah memenuhi wajan terlalu penuh. Cara ini membuat bahan tak kecokelatan dan justru matang karena uap.

Solusinya sederhana, beri jarak antar bahan dan panaskan wajan hingga benar-benar siap. Gunakan juga alat masak yang mampu menahan panas agar hasilnya lebih merata dan beraroma.

Kebiasaan lain yang sebaiknya dihindari adalah selalu memakai api besar. “Menurunkan panas untuk telur, ikan, dan saus membuat masakan lebih terkontrol,” kata Justin Ferrera, executive sous chef di Thompson Savannah.

Menggunakan pisau tumpul jadi kebiasaan dapur yang sebaiknya ditinggalkan. Pisau yang tak tajam membuat proses memasak lebih lambat dan berisiko.

“Pisau tajam tidak seharusnya dimasukkan ke mesin pencuci piring karena cepat tumpul dan berbahaya,” kata Katie Button, chef sekaligus co-founder restoran Cúrate di Asheville, North Carolina, Amerika Serikat.

Pisau tumpul justru lebih mudah melukai karena butuh tekanan lebih besar. Menurut Button, pilih alat pengasah yang paling mudah digunakan agar rutin diasah.

Banyak orang memilih minyak zaitun karena kemasan menarik, bukan kualitas isinya. Padahal, minyak zaitun yang tengik bisa merusak rasa masakan.

“Fokuslah pada kualitas minyak extra virgin, bukan botolnya,” kata Silvia Barban, chef asal Italia. Minyak berkualitas memberi aroma segar dan rasa lebih bersih saat memasak.

Silvia mengaku lebih memilih minyak zaitun yang isinya terjaga, seperti favoritnya. Dengan kualitas baik, masakan sederhana pun terasa lebih maksimal.

4. Masak Protein Terlalu Mentah

Memasak daging tanpa patokan suhu sering berujung terlalu matang atau masih mentah. Kesalahan ini tak hanya merusak tekstur, tapi juga berisiko bagi keamanan pangan.

“Tidak memakai termometer adalah kebiasaan dapur yang paling mengganggu,” kata Katie Vine, pendiri Dinners Done Quick. Alat ini membantu memastikan ayam matang aman dan steak tetap juicy.

Menurut Vine, termometer juga berguna saat membuat permen seperti karamel atau toffee. Mengikuti suhu yang tepat bisa menghindari gagal masak dan bahan terbuang.

5. Buang-buang Bahan Makanan

Membuang sisa bahan dapur masih sering dilakukan saat memasak di rumah. Padahal banyak bagian bahan yang masih bisa diolah kembali.

“Gunakan sisa sayur dan tulang protein untuk membuat kaldu,” kata Patrick Scully, National Director of Food, Beverage, and Culinary Experience di Esplanade by Taylor Morrison, Amerika Serikat.

Cara ini membantu memaksimalkan bahan sekaligus menghemat belanja. Sisa sayur, kulit telur, dan ampas kopi bisa dijadikan kompos. Nasi goreng juga contoh sederhana mengolah sisa makanan agar tak terbuang.

Baca Juga

Dikutip dari Food and Wine (31/12) berikut 5 kebiasaan di dapur yang harus dihindari:

1. Memasukkan Terlalu Banyak Bahan

2. Pakai Pisau Tumpul di Dapur

3. Pakai Minyak Zaitun yang Tengik

Gambar ilustrasi

Banyak orang memilih minyak zaitun karena kemasan menarik, bukan kualitas isinya. Padahal, minyak zaitun yang tengik bisa merusak rasa masakan.

“Fokuslah pada kualitas minyak extra virgin, bukan botolnya,” kata Silvia Barban, chef asal Italia. Minyak berkualitas memberi aroma segar dan rasa lebih bersih saat memasak.

Silvia mengaku lebih memilih minyak zaitun yang isinya terjaga, seperti favoritnya. Dengan kualitas baik, masakan sederhana pun terasa lebih maksimal.

4. Masak Protein Terlalu Mentah

Memasak daging tanpa patokan suhu sering berujung terlalu matang atau masih mentah. Kesalahan ini tak hanya merusak tekstur, tapi juga berisiko bagi keamanan pangan.

“Tidak memakai termometer adalah kebiasaan dapur yang paling mengganggu,” kata Katie Vine, pendiri Dinners Done Quick. Alat ini membantu memastikan ayam matang aman dan steak tetap juicy.

Menurut Vine, termometer juga berguna saat membuat permen seperti karamel atau toffee. Mengikuti suhu yang tepat bisa menghindari gagal masak dan bahan terbuang.

5. Buang-buang Bahan Makanan

Membuang sisa bahan dapur masih sering dilakukan saat memasak di rumah. Padahal banyak bagian bahan yang masih bisa diolah kembali.

“Gunakan sisa sayur dan tulang protein untuk membuat kaldu,” kata Patrick Scully, National Director of Food, Beverage, and Culinary Experience di Esplanade by Taylor Morrison, Amerika Serikat.

Cara ini membantu memaksimalkan bahan sekaligus menghemat belanja. Sisa sayur, kulit telur, dan ampas kopi bisa dijadikan kompos. Nasi goreng juga contoh sederhana mengolah sisa makanan agar tak terbuang.

Baca Juga

3. Pakai Minyak Zaitun yang Tengik