Aturan Kontroversial, Restoran Ramen Ini Larang Pelanggan China Masuk

Posted on

Sebuah restoran ramen diprotes netizen karena peraturannya dianggap rasis. Mereka melarang pelanggan dari China datang gegara alasan tertentu.

Setiap restoran memiliki aturan yang mencerminkan nilai-nilai yang ingin diusung pemilik atau manajemennya. Tujuannya ialah menciptakan keamanan dan kenyamanan, baik bagi pekerja maupun pelanggan lain yang datang.

Namun ada juga aturan-aturan yang terkesan aneh. Bahkan sebagian restoran sampai menuai kontroversi karena dianggap melakukan rasisme.

Dilansir dari The Star, (17/1/2026), sebuah restoran ramen di Osaka, Jepang, mendadak menjadi sorotan. Hal ini terjadi lantaran aturan baru yang ditetapkannya.

Restoran ini mengumumkan peraturan terbarunya yang melarang pelanggan berkebangsaaan China atau datang dari China untuk makan di sini. Restoran yang dikenal sebagai Iekei atau Gadoya itu mengunggah pengumuman di media sosial pada 4 Januari 2026.

Pernyataan ini muncul setelah sebuah insiden yang melibatkan seorang pelanggan Tiongkok. Pelanggan tersebut dinilai telah membuat gangguan di restoran hingga membuat salah satu pekerja menghubungi polisi.

Bahkan dalam unggahannya mereka menyebut terlalu banyak masalah yang datang gegara pelanggan dari China. “90% masalah datang dari mereka (pelanggan asal China),” ujarnya dalam pernyataan yang diunggah.

Selain itu protes netizen terhadap restoran tersebut juga terkait harga menu yang dipatok. Ketika ada pelanggan yang hendak mengubah bahasa pada mesin pemesan menu, maka harganya berubah.

Sementara menu hanya ditulis dalam huruf kanji yang akan menyulitkan pelanggan dari luar negara Jepang untuk memahaminya. Konon disebutkan juga pelarangan pengunjung dari China disebabkan karena mereka mengerti tulisan kanji yang digunakan.

Ada beberapa protes yang disampaikan oleh pelanggan China karena harga untuk pengunjung lokal dan turis yang dibedakan. Perbedaan harganya bahkan terjadi hampir dua kali lipat.

Atas kegaduhan tersebut, pemilik restoran yang bernama Arai menyampaikan pernyataannya. Ia menyebut penetapan harga bukan untuk wisatawan asing, tetapi untuk mereka yang tak paham bahasa Jepang.

Namun pernyataan tersebut justru semakin memicu emosi netizen.

“Aneh jika disebut menggunakan perbedaan bahasa untuk penetapan harga yang berbeda, orang-orang bisa menggunakan aplikasi penerjemah,” ujarnya.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi