Sebuah bar di Tokyo mendadak jadi bahan perbincangan setelah memasang papan pengumuman dengan batas usia pengunjung. Bar bergaya izakaya yang berada di kawasan Shibuya itu menuliskan bahwa tempatnya diperuntukkan bagi generasi muda, khususnya mereka yang berusia di bawah 40 tahun.
Shibuya sendiri dikenal sebagai pusat hiburan malam yang ramai dan identik dengan anak muda. Tak heran jika mayoritas pengunjung bar tersebut memang berasal dari kalangan usia 20-an. Namun, keberadaan papan bertuliskan ‘U-40 (under 40) specialty bar’ di dekat pintu masuk tetap memicu pro dan kontra, terutama di media sosial.
Dalam liputan media Jepang, disebutkan bahwa papan tersebut masih terpajang jelas saat tim TV Asahi berkunjung. Selama pengamatan, sekitar 90 persen pengunjung yang datang terlihat berusia muda. Hal ini memperkuat citra bar tersebut sebagai tempat nongkrong yang memang menyasar generasi muda.
Seorang staf bar menjelaskan bahwa kebijakan itu muncul dari masukan pelanggan tetap. Banyak pengunjung muda mengaku merasa lebih nyaman menikmati suasana bar yang ramai dan berisik tanpa khawatir mengganggu atau terganggu oleh pengunjung yang lebih tua. Menurut staf, suasana inilah yang ingin dipertahankan.
Meski demikian, pemilik bar menegaskan bahwa papan tersebut bukanlah larangan mutlak bagi orang berusia di atas 40 tahun. Tulisan itu lebih dimaksudkan sebagai peringatan tentang atmosfer di dalam bar yang cenderung bising dan penuh energi. Jika ada pengunjung yang lebih tua datang, maka staf akan menjelaskan kondisi tersebut terlebih dahulu.
Pemilik bar bahkan menyebut bahwa pengunjung di atas 40 tahun tetap dipersilakan masuk selama merasa nyaman dengan suasana yang ada. Ia menambahkan bahwa usia bukan satu-satunya patokan, karena ada pula orang yang memiliki jiwa muda, tetapi sudah tua secara angka.
Meski sudah diberi klarifikasi, kebijakan ini tetap memicu perdebatan. Sebagian orang menilai langkah tersebut sebagai strategi pemasaran yang cerdik untuk menargetkan segmen tertentu. Namun, tidak sedikit pula yang menganggapnya berpotensi diskriminatif karena membatasi akses berdasarkan usia.




