Chewy Dubai Cookie sedang viral di Korea Selatan. Kelangkaan bahan membuat beberapa restoran mengubah bahan kataifi dengan bahan lain. Namun hal tersebut justru dianggap penipuan.
Tren kuliner global tampak tidak ada habisnya. Saat ini sedang viral chewy dubai cookie, berupa dessert yang dibuat dengan membungkus isian berbahan dasar pistachio dan kataifi dengan lelehan adonan marhsmallow cokelat.
Gabungan ini membuat tekstur dan cita rasanya menjadi unik. Menghadirkan kesan mewah, kaya rasa, dengan tekstur kompleks.
Tren chewy dubai cookie ini pun bermula di Korea Selatan, disebut ‘Jjondeuk’ dan sampai saat ini masih menarik perhatian masyarakat di sana.
Saking viralnya, beberapa bahan disebut-sebut langka. Terutama bahan kataifi (adonan pastry tradisional Timur Tengah dan Yunani yang berbentuk seperti benang atau bihun halus, terbuat dari adonan filo yang diparut atau diiris sangat tipis) yang memberikan tekstur renyah.
Harga untuk bahan kataifi tersebut melonjak tinggi. Alhasil beberapa restoran mencari alternatif dengan mengubahnya ke bahan lain. Beberapa restoran mengubahnya ke mie berbahan dasar kedelai, mie konjac, atau somyeon (mie dengan tepung gandum).
Namun hal ini menimbulkan perdebatan banyak orang. Banyak yang menganggap apakah hal tersebut termasuk ke dalam penipuan karena restoran mengubah bahan kataifi tanpa memberitahu konsumen.
Dilansir dari biz.chosun.com (15/1), komunitas hukum mencatat bahwa menjual produk menggunakan pengganti tanpa mengungkapkan bahan dan persediaan dengan benar dapat merupakan penipuan di bawah Undang-Undang Pidana.
Pengacara Kim Seong-su dari Kantor Hukum Gwangya juga mengungkap, “Kue Dubai jjondeuk adalah produk di mana bahan dan persediaan adalah kuncinya. Jika pengganti digunakan dan ini tidak diungkapkan, itu dapat dilihat sebagai tindakan penipuan.”
Menurut aplikasi Polcent, harga untuk beberapa produk pistachio 1kg yang dijual di aplikasi Coupang meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam sebulan.
Satu produk yang awalnya dibanderol sekitar 20.000 won (Rp 230.000) pada awal Desember lalu, per tanggal 13 Januari harganya mencapai 80.000 won (Rp 920.000).
Begitu juga dengan kataifinya yang meningkat hampir dua kali lipat selama periode yang sama. Harganya menjadi 30.000 won (Rp 345.000) untuk 500 gram. Sama dengan harga marshmallow yang juga meningkat, dan semua bahan ini merupakan bahan utama dari pembuatan chewy dubai cookie.
Di sisi lain, harga kataifi yang meningkat membuat beberapa resep alternatif menjadi sorotan. Kataifi merupakan mie tipis yang terbuat dari adonan tepung dan air.
Sebagai pengganti, resep lain merekomendasikan untuk mengubahnya ke mie kedelai yang dapat mempertahankan tekstur sekaligus menurunkan biaya pengeluaran bahan karena lebih murah.
Memotong mie kedelai menjadi bagian kecil lalu menggorengnya dengan mentega mampu menghasilkan tekstur dan rasa yang mirip.
Mie konjac dan mie beras juga telah muncul sebagai alternatif. Bahan-bahan ini relatif murah dan rendah kalorinya, membuatnya populer dengan sebutan ‘kue jjondeuk Dubai yang sehat.”
Pasalnya chewy Dubai cookie yang biasa mengandung 500-600 kkal, sedangkan penggunaan mie konjac dapat menurunkan kalorinya.






