Banyak anggapan makanan segar lebih baik daripada makanan sisa. Namun hal tersebut berlaku sebaliknya pada pasta. Menurut ahli, pasta sisa justru lebih baik karena alasan ini.
Makanan segar dianggap lebih baik dan lebih enak daripada makanan sisa lantaran kandungan nutrisi makanan segar cenderung lebih lengkap dan terjaga. Sedangkan makanan sisa berisiko tinggi bakteri penyebab keracunan jika tidak disimpan dengan benar. Nutrisinya juga akan menurun seiring waktu.
Tetapi sepertinya konsep tersebut tidak berlaku pada semua makanan. Pasalnya para ahli justru menyarankan pada pasta, pasta sisa jauh lebih baik daripada pasta segar.
Hal ini bermula dari unggahan viral di media sosial yang mengklaim bahwa pasta sisa lebih ramah bagi peningkatan kadar gula darah tinggi daripada semangkuk pasta segar.
Chef selebriti Giada De Laurentiis juga menyoroti tren tersebut. Ia setuju kalau mengonsumsi pasta sisa atau pasta yang didiamkan dulu baru dimakan keesokan harinya mungkin lebih mudah dicerna.
“Pasta sisa adalah pilihan terbaik,” ujar De Laurentiis dalam videonya.
Anggapan tersebut tidak hanya didasari dari kumpulan pendapat banyak orang, karena juga didukung oleh beberapa penelitian.
Dilansir dari nypost.com (14/1), Ashley Kitchens, seorang ahli diet nabati mengungkap bila pasta yang dibiarkan dingin lalu dipanaskan kembali di microwave memiliki sebagian pati (yang dapat dicerna) berubah menjadi pati resisten.
“Pati resisten, sesuai dengan namanya ia tahan terhadap pencernaan. Karena itu, lebih sedikit gula atau glukosa yang masuk ke aliran darah,” jelasnya.
Menurut ahli Ashley Kitchens, pati resisten bertindak seperti serat yang memberi makan bakteri baik di usus.
Para ahli dari The Ohio State University Wexner Medical Center mengungkap pati resisten ini terbentuk melalui proses yang disebut retrogradasi. Saat pasta dimasak, pati di dalamnya mengalami gelatinisasi sehingga mudah dicerna.
Setelah didiamkan di kulkas dengan waktu ideal sekitar 24 jam atau lebih, sebagian dari pati tersebut akan tersusun kembali menjadi struktur yang tidak dapat sepenuhnya dipecah oleh tubuh. Akibatnya, pasta yang didinginkan atau dipanaskan kembali mengandung lebih sedikit kalori yang dapat dicerna dan akhirnya lebih sedikit menyebabkan peningkatan gula darah dalam darah setelah dimakan.
Penelitian yang disebut Nypost menunjukkan bahwa efek makan pasta sisa nyata tetapi tetap bergantung pada setiap individu, terutama penderita diabetes.
Penelitian dari Universitas Surrey di Inggris juga menegaskan kalau cara makan pasta sisa yang didinginkan dan dipanaskan kembali bukanlah sebuah jalan pintas dan tidak ada jaminan efeknya berhasil. Mereka mengungkap efeknya bisa sangat bervariasi.
Ahli Wright mengungkap kepada Fox News Digital bahwa hal ini dapat mengurangi atau menggeser peningkatan glukosa, tetapi tidak membuat pasta bebas dari efeknya dalam meningkatkan gula darah.
Cara ini mungkin bermanfaat bagi mereka yang ingin mengelola atau mengontrol kadar gula darah. Tetapi bukan menjadi solusi atau ‘obat mujarab’.
Selain itu, para ahli juga menekankan pada ukuran porsi makan yang penting untuk diperhatikan. Jika pasta sisa dikonsumsi dalam porsi besar, trik tersebut mungkin tidak akan bermanfaat.






