Minyak Jelantah Bukan Solusi Hemat, Ini Risikonya bagi Kesehatan

Posted on

Pemakaian minyak jelantah masih jamak di dapur-dapur rumah tangga. Meski terdengar hemat, tapi ada risiko kesehatan yang mengintai di baliknya.

Minyak jelantah atau minyak goreng bekas pakai sering dianggap solusi murah untuk memasak berulang kali. Padahal, kebiasaan ini dapat menyebabkan berbagai risiko penyakit jika diremehkan.

Minyak yang dipanaskan berulang kali mengalami penurunan kualitas dan terbentuknya zat berbahaya. Berikut 5 dampak buruk akibat minyak jelantah yang dapat terjadi pada tubuh, seperti dilansir dari berbagai sumber:

1. Risiko Penyakit Jantung dan Stroke

Setiap kali minyak digunakan, kandungan asam lemak trans dan radikal bebas meningkat. Zat-zat ini bisa menyumbat pembuluh darah dan mengakibatkan tekanan darah tinggi hingga serangan jantung atau stroke jika dikonsumsi terus menerus.

2. Peningkatan Kadar Kolesterol Jahat

Minyak jelantah cenderung mengandung lebih banyak lemak jenuh seiring dipanaskan berkali-kali. Hal ini dapat mengerek kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah, memperbesar risiko penyumbatan pembuluh darah, dan komplikasi kesehatan yang serius.

3. Pembentukan Zat Karsinogenik

Memanaskan minyak berulang kali dapat membentuk senyawa berbahaya seperti akrolein dan hidrokarbon polisiklik aromatik (HPA). Senyawa tersebut dikenal sebagai karsinogen yang berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker jika terakumulasi dalam tubuh.

4. Gangguan Sistem Pencernaan

Makanan yang digoreng dengan minyak jelantah cenderung sulit dicerna. Hal ini bisa menimbulkan sejumlah keluhan seperti mual, perut kembung, diare, atau peradangan pada saluran cerna karena iritasi dari zat sisa pembakaran maupun minyak yang rusak.

5. Penurunan Nilai Gizi Makanan

Minyak yang dipakai berkali-kali tidak hanya berbahaya, tetapi juga membuat nilai gizi makanan menurun drastis. Vitamin dan antioksidan yang seharusnya bermanfaat bagi tubuh ikut rusak oleh panas berulang, sehingga makanan gorengan jadi kurang bernutrisi.

Bahaya minyak jelantah tidak hanya mengancam tubuh kita. Jika dibuang sembarangan ke saluran air, tanah, atau selokan, minyak ini dapat mencemari air dan tanah, menyumbat saluran air, dan banjir. Hal tersebut disebabkan oleh minyak yang sulit larut dan membentuk lapisan yang menghambat oksigen masuk ke dalam air.

Kebiasaan pakai minyak jelantah bisa diganti dengan cara memasak yang lebih sehat baik untuk tubuh maupun lingkungan. Berikut beberapa langkah sederhana untuk mengurangi penggunaan minyak jelantah:

1. Batasi pemakaian minyak goreng maksimal dua kali saja, lalu buang bila warnanya sudah berubah atau berbau tengik.

2. Gunakan metode memasak lain, seperti mengukus, merebus, atau memanggang.

3. Jangan buang minyak jelantah sembarangan. Simpan di wadah tertutup dan serahkan ke tempat penampungan atau pusat daur ulang agar bisa diolah menjadi bahan bakar biodiesel atau produk lainnya.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

4. Gangguan Sistem Pencernaan

Makanan yang digoreng dengan minyak jelantah cenderung sulit dicerna. Hal ini bisa menimbulkan sejumlah keluhan seperti mual, perut kembung, diare, atau peradangan pada saluran cerna karena iritasi dari zat sisa pembakaran maupun minyak yang rusak.

5. Penurunan Nilai Gizi Makanan

Minyak yang dipakai berkali-kali tidak hanya berbahaya, tetapi juga membuat nilai gizi makanan menurun drastis. Vitamin dan antioksidan yang seharusnya bermanfaat bagi tubuh ikut rusak oleh panas berulang, sehingga makanan gorengan jadi kurang bernutrisi.

Bahaya minyak jelantah tidak hanya mengancam tubuh kita. Jika dibuang sembarangan ke saluran air, tanah, atau selokan, minyak ini dapat mencemari air dan tanah, menyumbat saluran air, dan banjir. Hal tersebut disebabkan oleh minyak yang sulit larut dan membentuk lapisan yang menghambat oksigen masuk ke dalam air.

Kebiasaan pakai minyak jelantah bisa diganti dengan cara memasak yang lebih sehat baik untuk tubuh maupun lingkungan. Berikut beberapa langkah sederhana untuk mengurangi penggunaan minyak jelantah:

1. Batasi pemakaian minyak goreng maksimal dua kali saja, lalu buang bila warnanya sudah berubah atau berbau tengik.

2. Gunakan metode memasak lain, seperti mengukus, merebus, atau memanggang.

3. Jangan buang minyak jelantah sembarangan. Simpan di wadah tertutup dan serahkan ke tempat penampungan atau pusat daur ulang agar bisa diolah menjadi bahan bakar biodiesel atau produk lainnya.

Gambar ilustrasi