Seorang karyawan baru curhat terkait sikap rasis yang dilakukan rekan kerja dan manajernya. Ia dilarang menggunakan dapur halal di kantornya yang banyak digunakan karyawan etnis Melayu.
Umumnya setiap kantor memiliki pantry atau semacam ruangan khusus dapur yang bebas dipakai oleh semua karyawan. Biasanya pantry digunakan untuk memasak, membuat teh, kopi, atau sekadar menghangatkan dan menyiapkan makan siang.
Sekalipun pada dasarnya pantry terbuka untuk seluruh karyawan, tetapi sensitivitas pribadi bisa membuat seorang karyawan dilarang menggunakannya, seperti yang dialami karyawan di Singapura ini.
Dalam sebuah unggahan di subreddit SinagporeRaw, seorang karyawan wanita anonim curhat terkait perlakuan yang ia terima dari rekan-rekannya di kantor.
Karyawan tersebut memang tergolong sebagai karyawan baru di kantornya. Ia pun berasumsi bahwa semua fasilitas, termasuk pantry, terbuka untuk semua karyawan, lapor theindependent.sg (13/1).
Pada suatu waktu, karyawan ini pergi ke pantry untuk makan siang. Tetapi dia merasa beberapa rekan kerjanya yang beretnis Melayu menatapnya sinis. Menurutnya rekan kerjanya sangat jelas menunjukkan wajah yang tidak suka atas kehadirannya.
Awalnya ia mengabaikan sikap rekan kerja tersebut dan tidak ambil pusing. Namun ternyata masalah semakin buruk.
Karyawan ini mengaku seorang wakil direktur kantor kemudian mendatanginya dan memintanya untuk tidak menggunakan ‘dapur mereka’. Bingung dengan permintaan tersebut, karyawan ini lalu bertanya terkait ‘dapur mereka’ yang dimaksud.
Alih-alih memberikan jawaban jelas, wakil direktur malah menghindari pertanyaannya. Wakil direkturnya juga kembali menegaskan kalau area tersebut tidak boleh digunakan oleh karyawan ini dan menyarankannya agar lebih peka.
Masih belum paham atas larangan tersebut, wanita ini mengaku dia tidak menemukan pemberitahuan tertulis apapun, seperti papan pengumuman atau semacamnya yang menunjukkan tempat tersebut dibatasi hanya untuk sekelompok orang tertentu.
Sepengetahuannya juga tidak ada persetujuan formal atau kebijakan resmi perusahaan yang mengatur terkait peraturan seperti ini.
Seiring berjalannya waktu ia pun sadar kalau rekan-rekan kerjanya yang beretnis Melayu secara ‘tidak resmi’ mengklaim pantry kantor tersebut sebagai fasilitas milik mereka yang dianggap ‘halal’.
Tidak diketahui etnis atau agama dari karyawan baru ini, tetapi dirinya secara jelas dilarang menggunakan dapur halal tersebut.
“Mereka (orang Melayu) di kantor saya telah menjadikan dapur dan dua toilet itu sebagai ‘dapur atau toilet halal’,” jelasnya.
Bahkan menurutnya di acara tertentu, terlepas dari makanannya halal atau tidak, rekan-rekan kerjanya ini hanya akan makan makanan yang dibeli oleh anggota kelompoknya sendiri. Karyawan itu memperjelas jika rekan-rekan orang Melayunya tidak mau makan makanan halal yang dibeli oleh orang China.
“Mereka mengirim satu orang dari kelompok mereka untuk pergi ke tempat yang sama dan membeli makanan yang sama, lalu memakannya,” curhat karyawan ini.
Rekan-rekan kerjanya juga melabeli salah satu microwave di pantry dengan tulisan ‘halal’. Sedangkan microwave khusus makanan non-halal diberi label ‘rusak’.
“Di dapur juga ada 2 microwave, 1 berlabel halal, yang lainnya non-halal. Microwave non-halal itu tidak tercolok. Seseorang mencoba mencoloknya dan menggunakannya. Sekarang sudah dicabut, dan ada stiker ‘rusak’ di atasnya,” ujarnya.
Karena tidak yakin dengan aturan ini, karyawan tersebut meminta pendapat kepada pengguna Reddit lainnya. Ia bertanya apakah dirinya salah karena rekan-rekan kerjanya selalu ribut setiap kali ada orang dari agama lain yang menggunakan dapur halal mereka.
Ia mengungkap, “”Secara pribadi, saya tidak melihat masalah jika melanggar aturan yang mereka tetapkan sendiri, karena saya tidak melanggar aturan perusahaan.”
Unggahannya ramai dibanjiri komentar netizen lain. Tidak sedikit netizen terkejut dan bingung dengan sikap rekan-rekan kerjanya.
Seorang netizen yang beragama Muslim dan beretnis Melayu saja tidak percaya dengan sikap rekan-rekan kerjanya .
Netizen tersebut berkomentar, “Itu gila. Sebagai seorang Muslim Melayu, perusahaan saya memiliki microwave untuk makanan halal, dan rekan kerja saya yang bukan Muslim bertanya apakah mereka bisa menggunakannya karena mereka membeli nasi padang halal dari makcik di seberang jalan.”
“Jelas, tidak ada masalah; ini adalah ‘microwave untuk makanan halal’. Jika makanan Anda halal, silakan saja,” ujar netizen lain.
Di sisi lain banyak juga netizen yang mempertanyakan keaslian cerita tersebut. Beberapa menganggap cerita tersebut seperti cerita palsu yang sengaja diunggah untuk menabur perpecahan di antara masyarakat di Singapura.
Seorang netizen berkomentar, “Kedua, tidak ada yang namanya dapur halal. Paling-paling, hanya oven microwave halal, yang sebenarnya tidak dipedulikan siapa pun.”






