Lulusan bioteknologi ini rela pulang kampung dan meninggalkan karier mapan demi menjaga apam balik legendaris keluarga di Bidor yang sudah bertahan 40 tahun.
Banyak lulusan bergelar mentereng memilih jalan karier mapan, tapi tidak dengan pemuda ini. Ia justru pulang kampung untuk meneruskan usaha apam balik kaki lima warisan keluarga.
Muhammad Shah Rizal Azuardi berasal dari Bidor, Malaysia. Ia memilih usaha apam balik yang merupakan kue tradisional khas Malaysia yang mirip dengan martabak manis atau terang bulan.
Sekilas, gerai apam balik di Jalan Panggung Wayang, Bidor, Perak, tampak seperti lapak kue tradisional pada umumnya.
Namun di balik wajan panas dan adonan sederhana itu, tersimpan kisah pengorbanan seorang anak demi mempertahankan warisan keluarga yang telah bertahan puluhan tahun.
Rizal memilih pulang ke kampung halaman untuk meneruskan usaha apam balik orang tuanya yang telah berjalan selama lebih dari 40 tahun, lapor Sinar Daily (18/1).
Keputusan itu diambil dengan penuh kesadaran, meski ia mengantongi gelar Sarjana Bioteknologi dan Pertanian dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA).
Di usia 28 tahun, Rizal mengaku keputusan tersebut lahir dari rasa tanggung jawab sebagai anak.
Kondisi kesehatan kedua orang tuanya yang semakin menurun membuat mereka tak lagi sanggup menjalankan usaha seperti dulu.
“Awalnya tidak pernah terlintas menjadikan apam balik sebagai karier. Dulu saya hanya membantu orang tua. Lama-lama, itu terasa seperti tanggung jawab,” ujar Rizal kepada Bernama.
Ia pun rela melepas mimpi menjadi spesialis bioteknologi atau Pegawai Tadbir dan Diplomatik (PTD). Padahal sebelumnya, Rizal sempat bekerja mapan dan nyaman sebagai asisten peneliti di sebuah institut riset.
“Kesehatan ayah semakin lemah dan ibu sering sakit. Ayah juga sering meminta saya meneruskan usaha yang sudah ia jalani selama 40 tahun,” tuturnya.
Rizal mulai serius mengelola usaha keluarga sejak 2020, bertepatan dengan masa Perintah Kawalan Pergerakan (PKP).
Meski menikmati kehidupan desa yang lebih tenang dan biaya hidup rendah, tantangan tetap datang silih berganti.
“Pernah ada teman yang menolak berjabat tangan karena tangan saya kotor. Sakit rasanya, tapi saya yakinkan diri bahwa saya mencari nafkah dengan jujur,” katanya.
Kini, Rizal mengelola semuanya seorang diri. Setiap hari ia mengolah 16-20 kilogram tepung terigu untuk membuat aneka apam balik, mulai dari versi klasik, renyah, hingga varian modern seperti pandan, keju, cokelat, susu, dan red velvet.
Harga per porsi dibanderol kisaran Rp 17.000-Rp 30.000, sementara versi crispy dibanderol kisaran Rp 4.000-an.
Meski sempat merasa bersalah melihat anaknya yang berpendidikan tinggi berjualan di pinggir jalan, Rizal menegaskan pilihannya bukanlah kemunduran.
“Berwirausaha sering dianggap ‘turun kelas’, padahal justru memberi kebebasan dan potensi pendapatan lebih besar,” tegasnya.
Ke depan, Rizal bermimpi memperluas Apam Balik Lagend Bidor ke kota-kota sekitar.
Ia berharap, suatu hari nanti, apam balik buatannya dikenal bukan hanya karena rasanya, tetapi juga kisah perjuangan di baliknya.






