Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Bubur ase khas Betawi hampir punah. Ciri khasnya yang unik tetap melekat menjadi kuliner ikonik asli Jakarta.
Beberapa kudapan daerah ada yang terancam punah. Generasi penerus yang tak memahami cara pembuatan atau bahkan bahan dasarnya yang sulit dicari menjadi alasan utama kelangkaan terjadi.
Salah satunya bubur ase, makanan khas Betawi. Walaupun bernama bubur tetapi hidangan ini tak seperti bubur pada umumnya, ada keistimewaannya sendiri.
Sayangnya, bubur ase kini mulai langka dan hampir punah. Padahal pernah menjadi ikon kuliner Betawi yang dibanggakan.
Bubur ase disajikan dengan menggabungkan bubur nasi lembut dengan kuah semur yang kaya rempah. Biasanya, bubur disajikan dengan rasa gurih ringan, tapi bubur ase justru menghadirkan sensasi manis-gurih khas kecap pada semurnya.
Kuah semur yang disiram di atas bubur membuat tekstur dan rasa menjadi lebih kompleks. Bubur yang lembut berpadu dengan daging sapi empuk serta kuah semur yang kental lebih menghangatkan dan mengenyangkan.
Kombinasi ini mencerminkan karakter kuliner Betawi yang terbuka terhadap berbagai pengaruh. Terutama dari budaya Tionghoa dan Eropa yang turut memengaruhi penggunaan kecap dan teknik memasak semur.
Nama bubur ase terdengar singkat. Namun memiliki makna yang melekat dengan cara penyajiannya.
Istilah “ase” diyakini berasal dari sebutan Betawi untuk kuah atau saus yang disiramkan ke dalam hidangan. Dalam konteks bubur ase, yang dimaksud adalah kuah semur.
Bubur nasi menjadi dasar, sementara “ase”-nya adalah semur daging yang melengkapinya. Hal ini juga menunjukkan bahwa bubur ase memiliki identitas kuat yang ditentukan oleh kuah semurnya.
Selain bubur dan kuah semur, bubur ase dikenal dengan isiannya yang lengkap. Daging sapi menjadi komponen utama, dimasak lama hingga empuk dan sarat bumbu.
Tak jarang, bubur ase juga dilengkapi kentang semur, tahu, serta taburan bawang goreng dan daun bawang. Beberapa versi menambahkan acar timun atau tomat untuk memberi rasa segar.
Isiannya yang padat membuat bubur ase cocok dalam kondisi apapun. Baik sebagai makanan ringan atau menu sarapan di pagi hari.
Seiring berkembangnya zaman, bubur ase semakin sulit ditemukan. Popularitasnya kalah dibandingkan kerak telor, soto Betawi, atau nasi uduk yang lebih sering dijajakan.
Bubur ase umumnya hanya dijual di warung-warung tertentu atau muncul saat acara budaya Betawi. Tidak banyak pedagang yang menjadikannya menu harian karena proses pembuatannya yang cukup rumit.
Kelangkaan ini membuat bubur ase menjadi kuliner nostalgia bagi sebagian warga Jakarta. Satu-satunya penjual bubur otentik di Jakarta adalah Bubur Ase Bang Lopi di Pasar Gandaria.
Secara tradisional, bubur ase sering disantap pada pagi hari. Teksturnya yang lembut membuatnya mudah dikonsumsi.
Selain sebagai menu sarapan, bubur ase juga kerap disajikan dalam acara keluarga atau hajatan. Hidangan ini menjadi simbol kebersamaan dan kehangatan.
Kehadiran bubur ase dalam acara-acara tersebut menegaskan perannya bukan hanya sebagai makanan. Namun juga bagian dari tradisi masyarakat Betawi.
Lantas, Bagaimana Fakta di Balik Penyajiannya?
1. Perpaduan Antara Nasi dan Semur
2. Asal Usul Nama ‘Ase’
3. Isian yang Komplet
4. Hampir Punah di Tanah Sendiri
5. Disajikan pada Acara Spesial






