Diprotes Pelanggan Makanannya Tak Pedas, Pemilik Resto Ini Balas Nyinyir

Posted on

Sebuah restoran kecil yang menyajikan masakan China di kawasan Tulum, Meksiko, mendadak menjadi sorotan publik setelah respons pemiliknya terhadap ulasan pelanggan memicu perdebatan. Begini kronologinya.

Dilansir dari DailyMailUK (15/01/2026), peristiwa ini bermula dari ulasan bintang tiga yang ditulis pelanggan bernama Anvita Kotha di Google Review untuk restoran bernama Wang Tulum.

Dalam ulasannya, Anvita menyebut pengalaman makannya cukup menyenangkan, tetapi ia merasa hidangan yang dipesan tidak cukup pedas meski sudah minta tambahan chili oil.

“Kami memesan Dan Dan Noodles dan dumpling (pangsit rebus) dengan chili oil. Sejujurnya, rasanya tidak pedas dan bukan selera kami. Saya tidak mengatakan makanannya buruk, tetapi memang tidak pedas meskipun sudah diberi extra chili oil dan bahkan ditambah garam,” tulis Anvita.

Meski begitu, ia tetap memberi catatan positif dengan memuji matcha latte yang disebut menggunakan bubuk matcha premium dan menyebut restoran tersebut memiliki area duduk luar ruangan.

Ulasan tersebut rupanya memantik emosi pemilik restoran. Melalui balasan yang diunggah secara terbuka, pemilik Wang Tulum melontarkan respons keras dan bernada sarkastik bahkan terkesan nyinyir dan tidak menerikma kritikan.

“Saya tidak tahu kalau kami punya kewajiban bahwa chili oil kami harus pedas? Oh, Anvita mau datang, jadi kami harus menyesuaikan semuanya karena dia seorang Google Guide?” tulis pemilik restoran tersebut. Ia juga menegaskan bahwa restoran berhak mempertahankan cita rasa sesuai dengan visi pemilik, bukan selera masing-masing pelanggan.

Pemilik restoran bahkan menyebut pelanggan tersebut egois dan menyarankan agar ia membuka restoran sendiri jika tidak puas dengan makanan di Wang Tulum.

“Pikirkan sebelum memberi ulasan dan sadari bahwa tidak ada bisnis yang bertanggung jawab untuk menyesuaikan selera Anvita. Buka saja restoran sendiri dan kita lihat bagaimana rasa makananmu,” tulisnya lagi, seraya menambahkan bahwa mereka tidak akan mengubah menu hanya demi satu selera.

Respons nyinyir dan sarkastik tersebut menuai reaksi beragam dari netizen. Sebagian mendukung pemilik restoran karena dinilai berani mempertahankan identitas masakannya. Namun tidak sedikit yang menilai reaksi tersebut berlebihan.

“Pemilik restoran ini terlalu emosional dan emosian untuk ulasan bintang tiga yang sebenarnya masih tergolong netral,” tulis seorang pengguna.

“Masalahnya, ulasan tiga bintang bisa mematikan usaha restoran, padahal itu seharusnya berarti makanan dan pelayanan restoran ‘biasa saja’ bukan buruk,” komentar pengguna lain.

Di sisi lain, ada pula netizen yang mengaku justru tertarik mengunjungi restoran tersebut setelah melihat perdebatan ini, mereka penasaran dengan menu mie hingga pangsit yang memicu pertikaian online ini.

“Ini seperti strategi pemasaran gratis, sekarang saya malah ingin datang ke sana,” tulis seorang pengguna dengan nada bercanda.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi