Debat netizen soal pelanggan yang nugas berjam-jam di kafe dan minimarket ramai di X. Banyak yang menilai kebiasaan ini merugikan pengunjung lain.
Media sosial kembali diramaikan perdebatan soal kebiasaan menjadikan kafe hingga minimarket sebagai tempat mengerjakan tugas atau bekerja dalam waktu lama.
Pro dan kontra mencuat, terutama terkait etika penggunaan ruang duduk di tempat umum yang sejatinya diperuntukkan bagi pelanggan makan dan minum.
Perdebatan ini bermula dari unggahan akun X (Twitter) @tanyarl (13/1), yang memperlihatkan suasana ramai di minimarket Lawson di Stasiun Sudirman.
Dalam foto tersebut terlihat beberapa pengunjung membuka laptop dan duduk cukup lama untuk mengerjakan tugas. Unggahan itu disertai kritik keras.
“Orang yang nugas buka laptop lama-lama di Lawson Stasiun Sudirman tuh egois tau gak sih. Orang-orang juga butuh bangku yang lu dudukin berjam-jam buat makan,” tulis akun tersebut.
Ia juga menyarankan agar orang yang ingin bekerja mencari kafe yang lebih proper. Pendapat itu langsung mendapat dukungan dari sejumlah netizen.
Banyak yang mengaku enggan mampir karena suasana menjadi penuh dan sesak. “Iya gua males banget kalo ke Lawson Sudirman, mau beli juga males karena sumpek banget,” tulis seorang netizen.
Keluhan lain menyebut dampak langsung ke pembeli dan pemilik usaha. “Orang yang niatnya mau beli ditempat malah jadi nggak beli. Kasian yang punya toko, rezekinya kehalang,” komentar netizen lain.
Ia menambahkan, ada pengunjung yang hanya membeli satu minuman agar bisa duduk berjam-jam. Sebagian netizen yang terbiasa work from cafe (WFC) juga ikut angkat suara.
“Gue anaknya suka WFC, tapi nggak di tempat transit jadi tempat kerja. Milih kafe juga harus yang proper,” tulis salah satu komentar.
Namun, di sisi lain, perdebatan ini melebar ke isu fasilitas pendidikan. Beberapa netizen menilai minimnya ruang belajar di kampus turut mendorong mahasiswa mencari tempat alternatif.
“Harusnya sebagian besar kampus Indonesia punya coworking space seperti kampus di London,” tulis seorang pengguna X.
Pendapat senada menyebut kurangnya student lounge di kampus. “Bukan perpustakaan ya, tapi meja kursi aja dibanyakin kayak kampus luar negeri,” tulis netizen lainnya.






