Berhenti Sekolah Demi Jualan Gorengan, Kisah Remaja Ini Jadi Perdebatan

Posted on

Remaja 17 tahun di China diizinkan orang tuanya berhenti sekolah untuk berjualan makanan. Tak disangka, ia meraup hampir Rp 20 juta dalam 10 hari, tapi hal ini memicu pro-kontra.

Niat seorang ibu di China untuk memberi pelajaran hidup kepada anaknya justru berujung di luar dugaan.

Alih-alih kapok dan ingin kembali bersekolah, si anak malah semakin mantap menekuni dunia jualan makanan setelah meraup penghasilan cukup besar hanya dalam hitungan hari.

Dikutip dari Weird Kaya (13/1) hal ini terjadi di Provinsi Anhui, China. Seorang ibu bermarga Deng mengizinkan putra semata wayangnya yang berusia 17 tahun untuk berhenti sekolah sementara dan mencoba hidup ‘keras’ sebagai pedagang kaki lima.

Sebelumnya, remaja tersebut merupakan siswa sekolah kejuruan bidang kuliner setelah lulus sekolah menengah pertama. Namun suatu hari ia menyampaikan keinginannya untuk berhenti belajar.

Alasannya sederhana, ia merasa tidak mendapatkan keterampilan yang berguna. “Saya tidak belajar apa pun yang bermanfaat di sekolah,” ujarnya kepada orang tuanya.

Alih-alih melarang, Deng memilih pendekatan berbeda. Ia berharap pengalaman bekerja langsung di lapangan akan membuka mata anaknya tentang beratnya mencari uang.

Deng pun membelikan gerobak roda tiga bekas dan mendorong putranya berjualan gorengan di pasar malam.

Harapannya, jam kerja panjang, kelelahan fisik, dan tekanan melayani pelanggan akan membuat sang anak jera dan kembali menghargai pendidikan. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Selama 10 hari berturut-turut, remaja tersebut berangkat berjualan sejak pukul 16.00 dan baru pulang sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dalam 10 hari, omzet yang ia peroleh mencapai 10.000 yuan atau sekitar Rp 22 juta.

Keberhasilan ini justru membuat si anak semakin yakin untuk tidak kembali ke bangku sekolah.

Deng mengabadikan perjalanan anaknya lewat video yang diunggah ke Douyin. Tak disangka, video tersebut viral dan memicu perdebatan.

Sebagian netizen memuji kegigihan sang remaja. “Setiap profesi bisa membawa kesuksesan,” tulis netizen.

Namun ada pula yang khawatir kisah ini memberi pesan keliru. “Cerita seperti ini bisa membuat siswa berpikir putus sekolah itu mudah dan menguntungkan,” komentar netizen lain.

Menanggapi kritik tersebut, Deng memberi klarifikasi. “Ini bukan ajakan untuk berhenti sekolah,” tegasnya.

Meski begitu, Deng dan suaminya akhirnya memilih menghormati keputusan sang anak. “Selama dia sehat, aman, dan bahagia, itu yang terpenting,” ujarnya.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi