6 Daftar Restoran Tertua di Asia, Ada yang Sejak Tahun 1153

Posted on

Berusia ratusan tahun, banyak restoran tertua di Asia yang masih beroperasi sampai sekarang. Tentunya dengan makanan dan sejarah yang menarik dibahas.

Asia tidak hanya dikenal sebagai benua dengan peradaban tertua, tetapi juga sebagai rumah bagi tradisi kuliner yang telah bertahan ratusan bahkan ribuan tahun.

Di tengah gempuran tren makanan modern dan restoran kekinian, sejumlah tempat makan legendaris tetap berdiri kokoh. Tempat ini menyajikan hidangan dengan resep turun-temurun yang nyaris tak berubah sejak berabad-abad lalu.

Restoran-restoran ini bukan sekadar tempat mengisi perut, melainkan saksi hidup perjalanan sejarah, budaya, dan selera masyarakat lintas generasi. Dari dapur sederhana yang berkembang menjadi favorit bangsawan hingga kedai tradisional yang tetap setia pada cara lama, kisah restoran tertua di Asia selalu menarik untuk disimak.

Dilansir dari Tatler Asia (13/01/2026), berikut daftar enam restoran tertua di Asia dan bersejarah.

1. Ma Yu Ching’s Bucket Chicken House, Kaifeng (1153)

Ma Yu Ching’s Bucket Chicken House kerap disebut sebagai salah satu restoran tertua di dunia sekaligus di Asia. Usaha kuliner ini bermula pada 1153 pada masa Dinasti Jin, ketika keluarga Ma mulai menjual ayam rebus dengan resep rahasia.

Ciri khasnya terletak pada teknik memasak ayam utuh tanpa membuka perut, lalu merebusnya perlahan dalam kaldu berbumbu. Setelah berpindah lokasi akibat konflik dan invasi, keturunan keluarga Ma membuka kembali usaha ini di Kaifeng, China, pada abad ke-19.

Hingga kini, resep ayam tradisional tetap dipertahankan. Pada 2007, ayam ember atau chicken bucket dari Ma Yu Ching ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah di Provinsi Henan.

2. Bianyifang, Beijing (1416)

Bianyifang merupakan salah satu restoran tertua di Asia dan paling bersejarah di China. Berdiri pada 1416 di Beijing pada masa Dinasti Ming, restoran ini dikenal luas sebagai pelopor bebek peking dengan teknik pemanggangan oven tertutup.

Metode tersebut menghasilkan kulit bebek yang renyah dengan daging tetap lembut juicy, berbeda dari teknik oven gantung yang lebih populer di masa kini.

Menilik sejarahnya, awalnya Bianyifang berupa kedai kecil di kawasan Caishikou, lalu berkembang pesat hingga menjadi tempat makan favorit pejabat dan bangsawan.

Nama Bianyifang, yang berarti ‘harga setara dengan pelayanan penuh perhatian’, konon diberikan oleh pejabat Yang Jisheng sebagai bentuk apresiasi. Hingga kini, restoran Bianyifang tetap menjadi ikon kuliner di kota Beijing.

3. Honke Owariya, Kyoto (1465)

Di posisi ketiga restoran tertua di Asia, ditempati oleh Honke Owariya yang dikenal sebagai restoran soba legendaris di Kyoto, Jepang. Tempat makan ini sudah berdiri sejak 1465.

Awalnya Honke Owariya merupakan toko manisan yang didirikan oleh keluarga perantau dari Provinsi Owari. Seiring waktu, Owariya mulai memproduksi soba dan memasok mie gandum hitam ke kuil-kuil Zen serta lingkungan istana kekaisaran.

Reputasinya terus meningkat hingga pada periode Edo, saat Honke Owariya menjadi pemasok soba terkemuka. Pasca Perang Dunia II, Honke Owariya bertransformasi menjadi restoran soba sepenuhnya.

Bangunannya yang berasal dari era Meiji masih dipertahankan hingga kini. Dengan resep turun-temurun dan air sumur alami, Honke Owariya menjadi simbol konsistensi rasa dan tradisi di Jepang.

4. Tai Ping Koon, Guangzhou & Hong Kong (1860)

Tai Ping Koon merupakan pelopor restoran ‘Western-style Chinese food’ yang didirikan di Guangzhou pada 1860. Restoran ini memperkenalkan konsep unik dengan memadukan teknik memasak Barat dan bahan-bahan khas China, seperti penggunaan kecap dalam hidangan ala Eropa.

Didirikan oleh Chui Lo Ko, Tai Ping Koon kemudian membuka cabang di Hong Kong pada 1938 dan menjadi bagian penting sejarah kuliner kota tersebut.

Hidangan seperti Swiss chicken wings dan roasted pigeon menjadi ikon hingga kini. Tai Ping Koon juga dikenal pernah melayani tokoh-tokoh besar Asia. Meski telah berusia lebih dari satu abad, resep dan suasana klasiknya tetap dipertahankan.

5. Lin Heung Tea House, Hong Kong (1889)

Masih di Hong Kong, ada Lin Heung Tea House. Rumah teh legendaris ini identik dengan tradisi yum cha klasik Hong Kong.

Berawal dari toko kue pengantin di Guangzhou pada 1889, Lin Heung membuka cabang di Hong Kong pada 1927 dan kemudian menjadi ikon kawasan Central Hong Kong dan salah satu kedai teh serta dimsum tertua di Asia.

Ciri khasnya adalah penyajian dim sum menggunakan troli dorong, suasana ramai, serta pelayanan tradisional tanpa sentuhan modern berlebihan.

Restoran ini sempat tutup akibat pandemi, namun kembali dibuka pada 2024. Lin Heung tetap mempertahankan identitas lamanya dengan hidangan klasik seperti siu mai dan har gow, menjadikannya simbol nostalgia kuliner Kanton.

6. New Toho Food Centre, Manila (1866)

Terakhir, ada New Toho Food Centre terletak di Binondo, Chinatown (Pecinan) tertua di dunia yang berada di Manila, Filipina. Restoran ini diyakini berdiri sejak 1866, meski sejumlah catatan menyebut tahun 1888 sehingga masuk ke daftar restoran tertua di Asia.

Resto ini awalnya didirikan oleh Manuel ‘Po Kong’ Bautista, Toho dikenal sebagai pelopor hidangan China-Filipina. Tokoh nasional Filipina, José Rizal, disebut pernah bersantap di tempat ini.

Hingga kini, New Toho tetap mempertahankan nuansa klasik dengan menu andalan seperti pancit canton, lumpia Shanghai, dan beef ampalaya. Meski bernama ‘New’, restoran ini justru menjadi saksi hidup sejarah panjang akulturasi kuliner di Filipina.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

4. Tai Ping Koon, Guangzhou & Hong Kong (1860)

Tai Ping Koon merupakan pelopor restoran ‘Western-style Chinese food’ yang didirikan di Guangzhou pada 1860. Restoran ini memperkenalkan konsep unik dengan memadukan teknik memasak Barat dan bahan-bahan khas China, seperti penggunaan kecap dalam hidangan ala Eropa.

Didirikan oleh Chui Lo Ko, Tai Ping Koon kemudian membuka cabang di Hong Kong pada 1938 dan menjadi bagian penting sejarah kuliner kota tersebut.

Hidangan seperti Swiss chicken wings dan roasted pigeon menjadi ikon hingga kini. Tai Ping Koon juga dikenal pernah melayani tokoh-tokoh besar Asia. Meski telah berusia lebih dari satu abad, resep dan suasana klasiknya tetap dipertahankan.

5. Lin Heung Tea House, Hong Kong (1889)

Masih di Hong Kong, ada Lin Heung Tea House. Rumah teh legendaris ini identik dengan tradisi yum cha klasik Hong Kong.

Berawal dari toko kue pengantin di Guangzhou pada 1889, Lin Heung membuka cabang di Hong Kong pada 1927 dan kemudian menjadi ikon kawasan Central Hong Kong dan salah satu kedai teh serta dimsum tertua di Asia.

Ciri khasnya adalah penyajian dim sum menggunakan troli dorong, suasana ramai, serta pelayanan tradisional tanpa sentuhan modern berlebihan.

Restoran ini sempat tutup akibat pandemi, namun kembali dibuka pada 2024. Lin Heung tetap mempertahankan identitas lamanya dengan hidangan klasik seperti siu mai dan har gow, menjadikannya simbol nostalgia kuliner Kanton.

Gambar ilustrasi

6. New Toho Food Centre, Manila (1866)

Terakhir, ada New Toho Food Centre terletak di Binondo, Chinatown (Pecinan) tertua di dunia yang berada di Manila, Filipina. Restoran ini diyakini berdiri sejak 1866, meski sejumlah catatan menyebut tahun 1888 sehingga masuk ke daftar restoran tertua di Asia.

Resto ini awalnya didirikan oleh Manuel ‘Po Kong’ Bautista, Toho dikenal sebagai pelopor hidangan China-Filipina. Tokoh nasional Filipina, José Rizal, disebut pernah bersantap di tempat ini.

Hingga kini, New Toho tetap mempertahankan nuansa klasik dengan menu andalan seperti pancit canton, lumpia Shanghai, dan beef ampalaya. Meski bernama ‘New’, restoran ini justru menjadi saksi hidup sejarah panjang akulturasi kuliner di Filipina.

Gambar ilustrasi