Tren kuliner memang silih berganti, tapi tidak semua disambut positif. Contohnya tren pamer kekayaan di Korea Selatan ini yang dibalut konten makan sederhana atau makan susah.
Tren ‘poverty challenge’ tengah viral di media sosial Korea Selatan dan memicu kontroversi besar. Tren ini memperlihatkan orang yang sebenarnya mampu secara finansial, tetapi mengaku miskin dan memamerkan gaya hidup mewah mereka.
Pada intinya, poverty challenge adalah sebuah tren di mana pengguna platform seperti TikTok dan Instagram membagikan konten yang memperlihatkan barang-barang mewah. Biasanya mereka memamerkan mobil sport, rumah mewah, atau fashion desainer terkenal, lalu secara sarkastik menyelipkan narasi tentang ‘kemiskinan yang tak tertahankan’.
Melansir Oddity Central (7/1), kritikus mengatakan ini menjadi bentuk pamer kekayaan yang dibalut humor, tetapi justru berisiko meremehkan orang yang benar-benar kesulitan ekonomi.
Dalam banyak unggahan, kombinasi tersebut terlihat sangat kontras. Misalnya, ada foto mie instan dan kimbap murah di samping kunci mobil Ferrari, atau bahkan tumpukan mie instan di kap mobil sport berwarna merah.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Sementara itu, keterangan yang menyertai sering kali menyinggung ‘kemiskinan’, meskipun konteksnya jelas menunjukkan kemewahan.
Konten seperti ini awalnya muncul sebagai lelucon ringan, tetapi menjadi topik perdebatan karena banyak netizen yang merasa tren tersebut melewati batas. Mereka menilai penggunaan istilah kemiskinan dalam konteks ini tidak hanya sensitif, tetapi juga kurangnya empati terhadap mereka yang benar-benar menghadapi tantangan ekonomi.
Salah satu tokoh yang vokal menolak tren ini adalah penyanyi dan aktor Korea, Kim Dong-wan. Dalam unggahan media sosialnya, ia menyatakan bahwa kemiskinan bukanlah emosi yang bisa dijadikan bahan candaan.
Ia mengingatkan bahwa masih ada mahasiswa yang harus mempertimbangkan apakah mereka bisa membeli satu buah gimbap karena keterbatasan dana. Pengalaman pribadinya hidup bersama ibu tunggal di apartemen membuatnya menilai tren ini tidak layak.
Kritik terhadap poverty challenge juga mencerminkan kekhawatiran tentang pembagian sosial dan perasaan tidak peka terhadap kesulitan ekonomi di masyarakat.
Banyak yang menilai bahwa tren seperti ini justru memperlebar jurang antara mereka yang benar-benar mengalami kemiskinan dan mereka yang hanya menggunakan istilah itu sebagai guyonan.
Saksikan Live infoSore:






