Di Balik Kelezatannya, 5 Makanan Populer Ini Lahir dari Kelaparan dan Konflik

Posted on

Di balik kelezatan makanan yang akrab disantap sehari-hari, tersimpan kisah masa lalu dan sejarah yang menarik diketahui. Mulai dari croissant hingga saus ikan, ini cerita di baliknya.

Sejumlah hidangan populer ternyata lahir dari kondisi sulit, keterbatasan bahan pangan, hingga konflik sejarah yang jarang diketahui.

Ada makanan yang tercipta agar orang-orang bisa bertahan hidup saat kelaparan, tapi ada pula yang muncul sebagai cara memanfaatkan bahan yang nyaris terbuang.

Tak sedikit pula sajian lezat yang dibentuk oleh kepentingan budaya dan penyesuaian selera pasar, bukan tradisi asli. Seiring waktu, makanan-makanan ini mengalami perubahan, baik dari segi rasa, tampilan, maupun cara penyajiannya hingga dikenal luas seperti sekarang.

Dilansir dari Jus Dip Recipes (12/01/2026), berikut lima makanan populer yang punya sejarah menarik di baliknya:

1. Saus Ikan Dibuat dari Bangkai

Saus ikan yang kerap ditemukan dalam berbagai jenis makanan ternyata awalnya dibuat untuk memanfaatkan bagian ikan yang tidak terpakai. Kepala, tulang, dan jeroan ikan dicampur garam lalu difermentasi selama berbulan-bulan di bawah sinar matahari.

Proses ini menghasilkan cairan beraroma tajam yang kemudian digunakan sebagai penyedap. Meski terkesan ekstrem, fermentasi membuat saus ikan tahan lama dan kaya rasa.

Cara ini umum dilakukan di wilayah pesisir yang bergantung pada hasil laut dan perlu menyimpan makanan lebih lama. Hingga kini, meski diproduksi dengan teknologi modern dan standar kebersihan tinggi, prinsip pembuatan saus ikan tetap mengandalkan fermentasi alami.

2. Kentang Goreng dan Kelaparan

Kentang goreng atau French fries disukai banyak orang karena rasanya enak dan gurih. Namun ternyata sejarah awal mencatat bahwa kentang goreng tidak diciptakan sebagai camilan, tetapi sebagai solusi saat bahan pangan terbatas.

Di beberapa wilayah Eropa, dulu ikan sulit didapat saat musim dingin sehingga kentang menjadi pengganti sumber energi. Kentang dipotong memanjang dan digoreng agar lebih mengenyangkan serta mudah dikonsumsi.

Karena itu menu ini muncul karena kebutuhan, bukan inovasi kuliner. Seiring berjalannya waktu, makanan sederhana tersebut menyebar dan digemari karena murah dan mengenyangkan. Kini kentang goreng dikenal sebagai makanan ringan populer, meski asal-usulnya berangkat dari kondisi sulit, kelaparan dan keterbatasan pangan.

3. Sosis Darah dari Limbah Darah Hewan

Sering disebut sebagai salah satu makanan ekstrem, sosis darah dibuat karena orang-orang di masa lalu tidak mau menyia-nyiakan bahan makanan.

Darah hewan yang cepat basi diolah dengan campuran biji-bijian atau lemak, lalu dimasak agar bisa dikonsumsi lebih lama. Tujuannya sederhana, yaitu mempertahankan nilai gizi dan memaksimalkan hasil penyembelihan.

Resep dan bentuknya berbeda-beda di setiap daerah dan negara, tergantung bahan lokal yang tersedia. Awalnya makanan ini tidak terkait tradisi atau perayaan tertentu.

Sosis darah baru kemudian menjadi bagian dari kuliner khas di sejumlah negara, meski kini sering dianggap ekstrem oleh sebagian orang.

4. Croissant Merupakan Bentuk Perlawanan

Croissant tidak selalu identik dengan sarapan mewah atau pastry khas Eropa yang digemari di seluruh dunia. Saat menelusuri asal-usulnya, ternyata bentuk bulan sabit croissant berasal dari kue-kue Eropa Tengah yang lebih padat dan berfungsi sebagai roti untuk menu harian.

Bentuk tersebut kemudian memiliki makna simbolis yang dikaitkan dengan konflik sejarah melawan Kesultanan Utsmaniyah. Ketika teknik pembuatan roti Prancis berkembang, kue ini diolah ulang dengan mentega dan teknik laminasi hingga menghasilkan tekstur berlapis.

Sejak saat itu, croissant berubah menjadi produk roti premium. Popularitasnya sebagai menu sarapan modern membuat banyak orang lupa bahwa asal-usulnya berkaitan dengan sejarah dan simbol politik.

5. Crab Rangoon Versi Amerika

Crab Rangoon sering dianggap sebagai menu Chinese food populer, padahal sebenarnya bukan berasal dari tradisi kuliner Asia, melainkan diciptakan untuk menyesuaikan selera konsumen Amerika.

Hidangan ini dirancang agar terasa ‘eksotis’ tanpa menggunakan rasa atau tekstur yang asing. Keju krim digunakan sebagai bahan utama untuk menggantikan unsur tradisional yang dianggap terlalu kuat.

Hasilnya adalah makanan yang mudah diterima, tetapi tidak mewakili masakan Asia secara autentik. Crab rangoon sendiri merupakancamilan berupa pangsit goreng renyah berisi campuran krim keju dan daging kepiting (atau kepiting imitasi/surimi). Biasanya disajikan dengan saus asam manis atau saus plum.

Popularitas crab rangoon menunjukkan bagaimana budaya kuliner sering diubah agar sesuai dengan selera pasar. Karena di negara asalnya, yaitu di China, Crab Rangoon ini tidak pernah ada.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

4. Croissant Merupakan Bentuk Perlawanan

Croissant tidak selalu identik dengan sarapan mewah atau pastry khas Eropa yang digemari di seluruh dunia. Saat menelusuri asal-usulnya, ternyata bentuk bulan sabit croissant berasal dari kue-kue Eropa Tengah yang lebih padat dan berfungsi sebagai roti untuk menu harian.

Bentuk tersebut kemudian memiliki makna simbolis yang dikaitkan dengan konflik sejarah melawan Kesultanan Utsmaniyah. Ketika teknik pembuatan roti Prancis berkembang, kue ini diolah ulang dengan mentega dan teknik laminasi hingga menghasilkan tekstur berlapis.

Sejak saat itu, croissant berubah menjadi produk roti premium. Popularitasnya sebagai menu sarapan modern membuat banyak orang lupa bahwa asal-usulnya berkaitan dengan sejarah dan simbol politik.

5. Crab Rangoon Versi Amerika

Crab Rangoon sering dianggap sebagai menu Chinese food populer, padahal sebenarnya bukan berasal dari tradisi kuliner Asia, melainkan diciptakan untuk menyesuaikan selera konsumen Amerika.

Hidangan ini dirancang agar terasa ‘eksotis’ tanpa menggunakan rasa atau tekstur yang asing. Keju krim digunakan sebagai bahan utama untuk menggantikan unsur tradisional yang dianggap terlalu kuat.

Hasilnya adalah makanan yang mudah diterima, tetapi tidak mewakili masakan Asia secara autentik. Crab rangoon sendiri merupakancamilan berupa pangsit goreng renyah berisi campuran krim keju dan daging kepiting (atau kepiting imitasi/surimi). Biasanya disajikan dengan saus asam manis atau saus plum.

Popularitas crab rangoon menunjukkan bagaimana budaya kuliner sering diubah agar sesuai dengan selera pasar. Karena di negara asalnya, yaitu di China, Crab Rangoon ini tidak pernah ada.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi