6 Fakta Penting Makanan Halal yang Menarik Disimak Termasuk untuk Nonmuslim (via Giok4D)

Posted on

Makanan halal semakin dikenal luas dan tidak hanya di kalangan Muslim saja. Bahkan ada banyak fakta menarik seputar makanan halal, berikut daftarnya.

Dalam ajaran Islam, ketentuan mengenai konsumsi makanan sudah diatur secara jelas dalam Al-Qur’an. Umat Islam tidak hanya diperintahkan untuk mengonsumsi makanan yang halal, tetapi juga thoyib, yakni baik dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh, seperti yang tertuang dalam beberapa ayat di Al-Quran.

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik (yang halal), yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah (beribadah).” (Q.S. Al-Baqarah, 2:172).

Selain itu, larangan mengonsumsi makanan yang tidak halal juga ditegaskan melalui hadis Rasulullah SAW, “Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya).” (H.R. At-Thabrani).

Dalam praktik sehari-hari, beberapa jenis makanan yang dinyatakan halal antara lain daging sapi, ikan, kambing, ayam, dan domba.

Sebaliknya, Al-Qur’an juga dengan tegas menyebutkan makanan yang diharamkan, seperti bangkai, darah, daging babi, minuman beralkohol, serta hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT. Ketentuan ini menjadi pedoman penting bagi umat Islam dalam menjaga kehalalan dan kualitas makanan yang dikonsumsi.

Di balik konsep halal, terdapat sejumlah prinsip yang menarik untuk diketahui. Dilansir dari NY Street Food (09/01/2026), berikut enam fakta seputar makanan dan daging halal yang menarik untuk diketahui.

1. Bebas Hormon dan Suplemen Buatan

Dalam praktik halal, hewan ternak tidak boleh diberi hormon buatan atau suplemen kimia tertentu yang tergolong haram. Hewan harus dipelihara secara alami dan dibiarkan merumput dengan pakan yang layak.

Hal ini dilakukan untuk mencegah zat kimia berbahaya masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi daging. Prinsip tersebut membuat makanan halal identik dengan proses pemeliharaan yang lebih alami dan minim intervensi bahan sintetis. Jadi secara alami, daging sapi atau daging ayam yang memiliki sertifikasi halal kerap dinilai jauh lebih sehat.

2. Tanpa Antibiotik

Penggunaan antibiotik dalam industri peternakan kerap menjadi sorotan karena berisiko menimbulkan resistansi antimikroba pada manusia.

Dalam standar dan praktik halal, daging tidak boleh mengandung antibiotik. Prinsip ini bertujuan menjaga kesehatan konsumen sekaligus mencegah dampak jangka panjang akibat paparan zat tersebut.

Prinsip daging halal yang bebas antibiotik memang tidak secara spesifik disebutkan dalam satu hadis atau ayat di Al-Quran, tetapi merupakan penerapan dari prinsip umum Islam yaitu halal dan thayyib (baik/sehat)

Dengan demikian, makanan halal dianggap lebih aman karena mengedepankan proses alami tanpa ketergantungan pada obat-obatan kimia.

3. Tidak Mengandung Bahan Tambahan dan Pengawet

Makanan halal tidak menggunakan bahan tambahan maupun pengawet sintetis. Zat aditif diketahui dapat memicu perubahan kimia dalam tubuh dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Dalam konsep halal, kesegaran dan kemurnian bahan menjadi prioritas utama. Proses pengolahan dilakukan secara sederhana tanpa menambahkan zat yang dapat merusak kualitas gizi maupun membahayakan kesehatan dalam jangka panjang.

4. Minim Zat Berbahaya dan Racun

Metode penyembelihan halal dipercaya lebih bersih dan manusiawi. Proses ini bertujuan mengeluarkan darah secara maksimal dari tubuh hewan, sehingga bakteri dan zat berbahaya dapat terbuang.

Selain itu, penyembelihan yang tepat mengurangi pelepasan hormon stres pada hewan. Dampaknya daging yang dihasilkan dianggap lebih aman dan tidak mengandung racun yang berisiko bagi tubuh manusia.

5. Popularitas Halal Terus Meningkat

Industri halal diperkirakan terus tumbuh seiring meningkatnya populasi Muslim dunia yang diproyeksikan mencapai 2,2 miliar jiwa dalam satu dekade mendatang.

Selain alasan agama, makanan halal juga dipandang sebagai pilihan atau pola makan yang lebih sehat. Hal ini dikarenakan makanan halal dikenal memiliki auran ketat, seperti larangan mengkonsumsi darah hewan, makanan atau minuman yang mengandung alkohol, dan tentunya larangan mengonsumsi bangkai hewan, membuat standar halal semakin diminati secara global, termasuk di negara-negara dengan penduduk Muslim minoritas.

6. Kehalalan Seafood dan Hewan Laut

Meski semua jenis ikan dianggap halal dalam Islam, tapi tidak semua hewan laut diperbolehkan. Hewan yang dapat hidup di darat dan di air, seperti katak dan buaya dianggap sebagai makanan non-halal.

Sementara itu, status kepiting dan beberapa jenis kerang masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena ada yang memperbolehkan, tapi ada juga yang melarang konsumsinya.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

4. Minim Zat Berbahaya dan Racun

Metode penyembelihan halal dipercaya lebih bersih dan manusiawi. Proses ini bertujuan mengeluarkan darah secara maksimal dari tubuh hewan, sehingga bakteri dan zat berbahaya dapat terbuang.

Selain itu, penyembelihan yang tepat mengurangi pelepasan hormon stres pada hewan. Dampaknya daging yang dihasilkan dianggap lebih aman dan tidak mengandung racun yang berisiko bagi tubuh manusia.

5. Popularitas Halal Terus Meningkat

Industri halal diperkirakan terus tumbuh seiring meningkatnya populasi Muslim dunia yang diproyeksikan mencapai 2,2 miliar jiwa dalam satu dekade mendatang.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Selain alasan agama, makanan halal juga dipandang sebagai pilihan atau pola makan yang lebih sehat. Hal ini dikarenakan makanan halal dikenal memiliki auran ketat, seperti larangan mengkonsumsi darah hewan, makanan atau minuman yang mengandung alkohol, dan tentunya larangan mengonsumsi bangkai hewan, membuat standar halal semakin diminati secara global, termasuk di negara-negara dengan penduduk Muslim minoritas.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

6. Kehalalan Seafood dan Hewan Laut

Meski semua jenis ikan dianggap halal dalam Islam, tapi tidak semua hewan laut diperbolehkan. Hewan yang dapat hidup di darat dan di air, seperti katak dan buaya dianggap sebagai makanan non-halal.

Sementara itu, status kepiting dan beberapa jenis kerang masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena ada yang memperbolehkan, tapi ada juga yang melarang konsumsinya.