AI disalahgunakan untuk edit foto makanan agar terlihat bermasalah demi ‘refund’ di aplikasi pesan-antar online. Aksi ini merugikan restoran dan menuai kecaman.
Kecanggihan kecerdasan buatan (AI) kini tak hanya dimanfaatkan untuk hal produktif, tetapi juga disalahgunakan untuk aksi penipuan.
Kini layanan pesan-antar makanan menghadapi lonjakan kasus pelanggan nakal yang memanfaatkan AI untuk merekayasa foto makanan demi mendapatkan refund atau pengembalian dana.
Praktik ini terungkap setelah sejumlah laporan menyebut adanya pelanggan yang mengedit foto pesanan agar terlihat bermasalah.
Mulai dari kue yang tampak meleleh, ayam terlihat masih mentah, hingga pastry yang diberi tambahan gambar lalat atau serangga, lapor New York Post (1/1/26).
Semua itu dibuat dengan teknologi AI generatif yang mampu menghasilkan visual sangat meyakinkan. Laporan ini pertama kali disorot oleh The Times of London.
Para pelaku pun tak malu memamerkan aksinya di media sosial. Salah satunya menulis di platform X, “Mengedit foto makanan supaya bisa dapat uang kembali dari DoorDash.”
Ia mengunggah foto burger yang tampak setengah mentah hasil manipulasi digital.
Dalam unggahan lain di Threads, seorang pengguna mengaku menggunakan Photoshop untuk membuat paha ayam terlihat kurang matang.
Alhasil, layanan pelanggan aplikasi pesan-antar disebut langsung meminta maaf atas ‘ketidaknyamanan’ dan mengembalikan dana sebesar Rp 430.000.
Aksi tersebut menuai kecaman keras dari netizen. “Ini tuh gak lucu sama sekali,” tulis salah satu komentar.
Ada pula yang menegaskan, “Ini akan merugikan bisnis tempat kamu memesan, bukan aplikasi pesan-antarnya.”
Meski praktik ini tergolong ilegal di Amerika Serikat dan Inggris, banyak platform disebut masih memberikan refund tanpa penyelidikan mendalam.
Hal ini membuka celah bagi penipuan serupa untuk terus berulang dan merugikan pelaku usaha kuliner.
Ironisnya, skema penipuan berbasis AI ini tak hanya dilakukan pelanggan. Bulan lalu, seorang kurir DoorDash juga dituding mengirimkan foto makanan hasil AI sebagai bukti pengantaran.
Meski kasus tersebut berhasil terungkap, para ahli khawatir ke depan akan semakin sulit membedakan foto makanan asli dengan hasil buatan AI.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Royal Society Open Science.
Studi tersebut menyebutkan bahwa manusia kini semakin sulit membedakan wajah asli dengan wajah hasil AI tanpa pelatihan khusus.
Jika diterapkan pada foto makanan, bukan tak mungkin penipuan semacam ini akan makin marak.






