Biasanya makanan dibungkus menggunakan lembaran aluminium foil atau plastik, tapi kemudian muncul alternatif alami berupa daun pisang. Benarkah daun pisang efektif menggantikan fungsi aluminum foil?
Sebuah video viral menganjurkan penggunaan daun pisang sebagai pengganti aluminium foil atau plastik untuk membungkus makanan. Setelah diunggah ulang di platform X, video ini memicu perdebatan soal kelebihan dan kekurangan daun pisang dibandingkan aluminium foil.
Melansir NDTV Food (30/12), video tersebut memperlihatkan seorang perempuan yang mendemonstrasikan cara membungkus roti menggunakan daun pisang hijau berukuran besar, lalu menguncinya dengan tusuk gigi.
Penggunaan daun pisang untuk memasak dan membungkus makanan sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin, daun pisang telah lama dimanfaatkan untuk keperluan tersebut.
Pertanyaannya bukan semata-mata mana yang lebih baik, melainkan dalam kondisi apa daun pisang bisa menjadi alternatif? Daun pisang memiliki sejumlah kelebihan alami. Permukaannya yang sedikit berlilin membantu menjaga kelembapan makanan tanpa menjebak terlalu banyak uap.
Daun ini juga cukup tahan terhadap panas sedang serta tidak bereaksi dengan makanan asin, asam, atau berbumbu. Selain itu, aroma alami daun pisang kerap dianggap menambah cita rasa makanan. Daun pisang bersifat mudah terurai dan dapat dikomposkan, sehingga tidak menambah limbah sekali pakai seperti aluminium foil.
Dalam praktiknya, daun pisang bekerja dengan baik untuk beberapa keperluan. Untuk proses pengukusan, daun pisang tidak mudah lengket dan mampu menahan uap dengan baik.
Pada pemanggangan ringan atau pemanggangan di atas grill bersuhu sedang, daun pisang dapat melindungi makanan dari panas langsung dan menjaga kelembapan, meskipun biasanya perlu lapisan ganda agar tidak mudah robek.
Daun pisang juga cukup efektif untuk pembungkusan jangka pendek, misalnya untuk bekal perjalanan atau piknik. Selain itu, daun pisang sering dimanfaatkan sebagai alas saji karena tampilannya yang alami dan bersih.
Namun, faktanya, daun pisang tidak sepenuhnya bisa menggantikan aluminium foil.
Untuk penyimpanan jangka panjang, terutama di lemari es atau freezer, daun pisang cenderung mengering dan retak. Daun ini juga tidak bisa memberikan segel kedap udara, sehingga kurang cocok untuk makanan berkuah, berminyak, atau cair.
Pada suhu oven yang sangat tinggi, daun pisang mudah hangus dan rusak, sementara aluminium foil masih lebih andal.
Kekhawatiran terhadap aluminium foil berkaitan dengan kemungkinan perpindahan aluminium ke makanan, terutama saat digunakan dengan bahan asam atau asin pada suhu tinggi. Selain itu, foil yang terkena minyak atau saus umumnya tidak dapat didaur ulang, sehingga menambah beban limbah rumah tangga.
Jadi sebenarnya, daun pisang bisa menjadi alternatif dalam kondisi tertentu, tetapi belum sepenuhnya menggantikan fungsi aluminium foil dalam semua keperluan dapur.




