Sering Makan Sendiri? Peneliti Ungkap Risikonya bagi Kesehatan

Posted on

Siapa sangka kebiasaan makan sendiri bisa memiliki efek samping bagi kesehatan, termasuk pada kesehatan fisik seseorang. Begini penjelasannya.

Makan sendiri semakin sering dilakukan oleh berbagai kelompok usia, terutama orang dewasa dan lanjut usia. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite menemukan bahwa kebiasaan ini berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.

Dilansir dari DailyMailUK (27/11/2024), tim peneliti di Flinders University, Australia meninjau 24 penelitian dalam dua dekade terakhir dan berfokus pada lansia (lanjut usia) yang rutin makan sendiri. Hasilnya, mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami frailty atau kondisi fisik yang melemah lebih cepat dibanding orang-orang yang makan bersama.

Penurunan kualitas pola makan menjadi faktor utama pemicu kondisi tersebut. Lansia yang makan sendiri cenderung mengonsumsi makanan kurang bergizi, asupan protein yang menurun, serta lebih jarang makan buah dan sayuran.

“Kekurangan nutrisi ini terakumulasi. Studi menunjukkan bahwa semakin sering seseorang makan sendiri, asupan proteinnya turun dari 58 gram menjadi 51 gram per hari,” tulis isi penelitian tersebut.

Kekurangan protein dapat menyebabkan hilangnya massa otot, melemahnya kekuatan tubuh, dan meningkatnya risiko ketergantungan pada orang lain.

Kebiasaan makan sendiri juga membuat sebagian lansia lebih sering memilih makanan instan atau siap saji. Di Swedia, lansia yang makan sendiri tercatat 4 kali lebih sering mengonsumsi makanan siap saji dibanding mereka yang makan bersama. Makanan seperti ini umumnya tinggi garam dan gula, sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit kronis.

Hilangnya rutinitas sosial saat makan turut mengurangi dorongan psikologis untuk makan lebih teratur dan memilih makanan lebih sehat. Para peneliti menekankan bahwa aspek sosial berperan penting.

“Sering makan sendirian membawa beban psikologis tersendiri dan menghilangkan isyarat sosial yang mendorong seseorang untuk makan lebih banyak dan memilih makanan yang lebih baik serta bernutrisi,” ujar peneliti.

Frailty sendiri merupakan sindrom medis yang ditandai menurunnya kekuatan, ketahanan, dan kemampuan tubuh pulih dari tekanan. Kondisi ini meningkatkan risiko jatuh, disabilitas, serta hilangnya kemandirian.

Frailty juga berkaitan dengan penyakit jantung, kanker, gangguan pernapasan, hingga demensia. Beberapa penelitian juga mengaitkan isolasi sosial dengan penyusutan volume otak yang meningkatkan risiko Alzheimer.

Para ahli merekomendasikan agar dokter dan tenaga medis yang menangani pasien lansia mulai menanyakan kebiasaan makan dan pola makan mereka saat melakukan pemeriksaan rutin.

Keluarga pun disarankan untuk lebih aktif dan lebih sering mengajak anggota keluarga untuk makan bersama. Tak hanya pada lansia, tapi untuk semua kelompok umur, makan bersama tetap dinilai menjadi langkah sederhana yang membawa manfaat besar bagi kesehatan tubuh dan mental.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi