Spanduk pecel lele yang ikonik ternyata punya alasan dan fakta menarik di baliknya. Bahkan semakin lusuh spanduknya, konon semakin menarik kepercayaan konsumen.
Warna mencolok, huruf kapital tebal, dan gambar lele berkumis menjadi pemandangan yang akrab di pinggir jalan, terutama saat malam tiba. Meski sering dianggap biasa dan seadanya, spanduk ini justru memiliki peran besar dalam menarik pelanggan.
Bagi banyak orang, spanduk pecel lele bukan hanya penanda tempat makan. Namun juga sinyal visual yang memicu rasa lapar.
Sekilas melihat warna merah atau kuning terang di bawah lampu jalan, pikiran langsung tertuju pada lele goreng, sambal pedas, dan nasi hangat. Namun dari aspek pemilihan warna, penggunaan nama daerah, hingga spanduk yang dibiarkan lusuh bertahun-tahun, ternyata memiliki alasan tersendiri.
Spanduk pecel lele hampir selalu didominasi warna-warna terang seperti merah, kuning, biru, atau hijau. Warna ini sengaja dipilih karena mudah menarik perhatian, terutama di tengah gelapnya suasana malam dan ramainya lalu lintas.
Bagi pedagang kaki lima, warna mencolok adalah strategi pemasaran paling murah dan efektif. Mereka tidak membutuhkan papan reklame mahal atau lampu besar, cukup spanduk dengan warna kontras agar terlihat dari kejauhan.
Semakin nyala”warnanya, semakin besar peluang warung disadari oleh orang yang awalnya tidak berniat makan. Menariknya, warna-warna ini juga sudah menjadi semacam kode visual.
Mayoritas spanduk pecel lele menggunakan huruf kapital besar dengan font tebal. Kata-kata kunci seperti “PECEL LELE”, “LAMONGAN”, atau “SEAFOOD” dibuat sesingkat dan sejelas mungkin.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa fungsi jauh lebih penting daripada estetika. Hal yang dipentingkan hanyalah pesan yang sampai kepada pelanggan.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Tulisan kapital tebal juga menciptakan kesan tegas dan jujur. Spanduk seolah berkata apa adanya, dan hal ini selaras dengan karakter pecel lele sebagai makanan rakyat yang tidak neko-neko.
Ilustrasi lele berkumis, ayam goreng, dan aneka seafood hampir selalu hadir di spanduk pecel lele. Gambar-gambar ini biasanya digambar dengan gaya sederhana, bahkan terkesan kuno.
Namun justru karena kesederhanaannya, visual ini mudah dikenali oleh semua kalangan. Bagi konsumen, gambar tersebut berfungsi sebagai penjelasan instan.
Selain itu, gambar ikonik ini juga menciptakan rasa akrab. Banyak orang tumbuh dengan pemandangan spanduk seperti ini sehingga juga menghadirkan rasa nostalgia saat melihatnya.
Spanduk pecel lele sering mencantumkan nama pemilik atau daerah, seperti “Pecel Lele Lamongan”, “Pecel Lele Bahari”, atau “Pecel Lele Mas Joko”. Nama ini menjadi identitas utama warung sekaligus pembeda dengan pedagang lain di sekitarnya.
Penyebutan Lamongan memiliki makna khusus di mata konsumen. Daerah ini sudah lama dikenal sebagai asal banyak pedagang pecel lele, sehingga namanya kerap dianggap sebagai jaminan keaslian dan cita rasa.
Penggunaan nama pemilik juga menciptakan kedekatan yang lebih erat dengan pelanggan. Sehingga tidak sedikit pelanggan yang berlangganan akan lebih mudah mengingat nama pemilik warung.
Salah satu fakta unik dari spanduk pecel lele adalah kebiasaan untuk tetap digunakan meski sudah pudar, sobek, atau berlubang. Tidak sedikit juga spanduk pecel lele yang seolah diwariskan oleh generasi penerus warung.
Spanduk tua kerap diasosiasikan dengan warung yang sudah lama berdiri dan bertahan. Dalam logika konsumen, jika warung masih ramai meski spanduknya usang, berarti rasanya memang layak dicoba.
Bahkan secara khusus spanduk pecel lele dibuat oleh seorang seniman asal Pekayon, Bekasi yang sudah menjadi langganan para pedagang pecel lele. Adalah Hartono sosok yang selama ini diandalkan oleh para pedagang pecel lele.
Berikut ini 5 fakta spanduk pecel lele yang ikonik:
1. Warna Mencolok yang Ikonik
2. Tulisan yang Seragam
3. Ciri Khas Gambar Lele hingga Ayam
4. Identitas Pemilik dan Daerah Asal
5. Semakin Lusuh Semakin Dicari


Ilustrasi lele berkumis, ayam goreng, dan aneka seafood hampir selalu hadir di spanduk pecel lele. Gambar-gambar ini biasanya digambar dengan gaya sederhana, bahkan terkesan kuno.
Namun justru karena kesederhanaannya, visual ini mudah dikenali oleh semua kalangan. Bagi konsumen, gambar tersebut berfungsi sebagai penjelasan instan.
Selain itu, gambar ikonik ini juga menciptakan rasa akrab. Banyak orang tumbuh dengan pemandangan spanduk seperti ini sehingga juga menghadirkan rasa nostalgia saat melihatnya.
Spanduk pecel lele sering mencantumkan nama pemilik atau daerah, seperti “Pecel Lele Lamongan”, “Pecel Lele Bahari”, atau “Pecel Lele Mas Joko”. Nama ini menjadi identitas utama warung sekaligus pembeda dengan pedagang lain di sekitarnya.
Penyebutan Lamongan memiliki makna khusus di mata konsumen. Daerah ini sudah lama dikenal sebagai asal banyak pedagang pecel lele, sehingga namanya kerap dianggap sebagai jaminan keaslian dan cita rasa.
Penggunaan nama pemilik juga menciptakan kedekatan yang lebih erat dengan pelanggan. Sehingga tidak sedikit pelanggan yang berlangganan akan lebih mudah mengingat nama pemilik warung.
Salah satu fakta unik dari spanduk pecel lele adalah kebiasaan untuk tetap digunakan meski sudah pudar, sobek, atau berlubang. Tidak sedikit juga spanduk pecel lele yang seolah diwariskan oleh generasi penerus warung.
Spanduk tua kerap diasosiasikan dengan warung yang sudah lama berdiri dan bertahan. Dalam logika konsumen, jika warung masih ramai meski spanduknya usang, berarti rasanya memang layak dicoba.
Bahkan secara khusus spanduk pecel lele dibuat oleh seorang seniman asal Pekayon, Bekasi yang sudah menjadi langganan para pedagang pecel lele. Adalah Hartono sosok yang selama ini diandalkan oleh para pedagang pecel lele.
3. Ciri Khas Gambar Lele hingga Ayam
4. Identitas Pemilik dan Daerah Asal
5. Semakin Lusuh Semakin Dicari





