Viralnya isopod atau kecoa laut di Jepang menuai perhatian banyak pihak. Salah satunya soal keamanan konsumsinya yang dikhawatirkan ahli.
Makanan ekstrem dengan bentuk aneh justru dianggap menarik bagi mereka yang bernyali besar. Seiring berkembangnya kemampuan untuk mengolah makanan, akhir-akhir ini muncul makanan unik yang menjadi populer.
Salah satunya ispod atau yang kerap disebut sebagai kecoa laut. Hewan purba ini mulai digemari untuk dikonsumsi di Jepang.
Padahal bentuknya mirip kecoa hanya saja dalam versi yang lebih besar dan menyeramkan. Uniknya hewan ini justru populer untuk diolah oleh para chef di restoran.
Konsumsi isopod raksasa pertama kali mencuat dari Jepang. Negara ini memang dikenal sebagai salah satu yang masif melakukan eksplorasi kuliner laut.
Di sana, Bathynomus giganteus, nama latin isodpod, pernah disajikan sebagai menu terbatas. Baik dalam acara khusus atau restoran tertentu yang mengusung konsep makanan laut ekstrem.
Isopod biasanya dimasak secara sederhana untuk mempertahankan rasa alaminya. Beberapa chef sengaja menyajikannya utuh agar pengunjung merasakan pengalaman visual sekaligus psikologis yang tidak biasa.
Kasus konsumsi isopod bermula dari akuarium publik yang memelihara hewan laut tersebut. Ketika isopod mati secara alami, beberapa institusi bekerja sama dengan restoran atau chef untuk mengolahnya menjadi hidangan.
Praktik ini kemudian menyebar luas di media sosial. Foto dan video kecoa laut yang disajikan di piring makan memicu reaksi beragam, mulai dari rasa penasaran hingga jijik.
Namun, bagaimanapun, isopod tetap menjadi hewan yang terbatas dan langka. Bahkan konsumsinya pun masih belum sepenuhnya dilegalkan.
Orang-orang yang pernah mencicipi isopod menggambarkan rasanya tidak seburuk tampilannya. Dagingnya disebut memiliki rasa gurih alami, mirip lobster atau kepiting.
Tekstur daging isopod cenderung padat dan sedikit berserat. Bagian yang paling sering dimakan adalah daging di kaki dan badan.
Organ dalam atau jeroannya memiliki rasa amis yang kuat, sehingga jarang dikonsumsi dan lebih banyak dibuang. Banyak orang mengakui bahwa tantangan bukan di lidah, tetapi di pikiran saat melihat bentuknya.
Berbeda dengan udang atau kepiting, isopod raksasa tidak dibudidayakan. Hewan ini hidup di laut dalam pada kedalaman ratusan hingga ribuan meter di dalam laut.
Untuk menangkapnya saja butuh keterampilan khusus dan harga yang mahal. Alasan ini yang membuat isopod tidak pernah masuk ke dalam sistem perikanan komersial.
Harga satu ekor isopod bisa sangat mahal karena kelangkaannya dan biaya pengambilan yang tinggi. Karena itu, konsumsi isopod bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan..
Banyak ilmuwan dan pemerhati lingkungan menilai bahwa biota laut dalam seharusnya dilindungi dan dipelajari. Isopod bukan untuk dieksploitasi sebagai makanan.
Selain itu, aspek keamanan pangan masih minim riset. Isopod hidup di lingkungan laut dalam yang berpotensi mengandung logam berat atau zat berbahaya.
Muncul kekhawatiran adanya dampak negatif yang bisa diberikan isopod terhadap kesehatan manusia. Sebagian besar ahli sepakat bahwa isopod lebih cocok dijadikan objek edukasi dan penelitian ilmiah.
Apa Saja Fakta di Balik Penyajian Isopod?
1. Jadi Kuliner Eksperimental
2. Mendadak Viral
3. Rasanya Mirip Lobster dan Kepiting
4. Bukan Komoditas Pangan
5. Menuai Kontroversi


Orang-orang yang pernah mencicipi isopod menggambarkan rasanya tidak seburuk tampilannya. Dagingnya disebut memiliki rasa gurih alami, mirip lobster atau kepiting.
Tekstur daging isopod cenderung padat dan sedikit berserat. Bagian yang paling sering dimakan adalah daging di kaki dan badan.
Organ dalam atau jeroannya memiliki rasa amis yang kuat, sehingga jarang dikonsumsi dan lebih banyak dibuang. Banyak orang mengakui bahwa tantangan bukan di lidah, tetapi di pikiran saat melihat bentuknya.
Berbeda dengan udang atau kepiting, isopod raksasa tidak dibudidayakan. Hewan ini hidup di laut dalam pada kedalaman ratusan hingga ribuan meter di dalam laut.
Untuk menangkapnya saja butuh keterampilan khusus dan harga yang mahal. Alasan ini yang membuat isopod tidak pernah masuk ke dalam sistem perikanan komersial.
Harga satu ekor isopod bisa sangat mahal karena kelangkaannya dan biaya pengambilan yang tinggi. Karena itu, konsumsi isopod bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan..
Banyak ilmuwan dan pemerhati lingkungan menilai bahwa biota laut dalam seharusnya dilindungi dan dipelajari. Isopod bukan untuk dieksploitasi sebagai makanan.
Selain itu, aspek keamanan pangan masih minim riset. Isopod hidup di lingkungan laut dalam yang berpotensi mengandung logam berat atau zat berbahaya.
Muncul kekhawatiran adanya dampak negatif yang bisa diberikan isopod terhadap kesehatan manusia. Sebagian besar ahli sepakat bahwa isopod lebih cocok dijadikan objek edukasi dan penelitian ilmiah.
3. Rasanya Mirip Lobster dan Kepiting
4. Bukan Komoditas Pangan
5. Menuai Kontroversi





