Viral di X keluhan seorang wisatawan akan harga 3 porsi gudeg plus es teh di Malioboro, Jogja, Rp 85 ribu. Ia menganggapnya terlalu mahal. Lantas, apa kata pengelola?
Akun X @jogja_base menampung beragam keluh kesah netizen, termasuk drama yang dialami wisatawan Jogja saat menghabiskan liburan tahun baru 2026 di sana. Salah satu yang viral adalah soal harga nasi gudeg.
Seorang wisatawan curhat, “Guys hati-hati kalau mau makan di depan Malioboro Jogja. Harganya mahal banget. Nasi gudeg tiga porsi dengan lauk telur, serta es teh manis harganya Rp 85.000.”
Unggahan ini menimbulkan pro dan kontra. Banyak netizen yang merasa harga tersebut masih dalam batas wajar, apalagi wisatawan itu makan di kawasan Malioboro yang memang tempat wisata.
“Kalian kalau masih permasalahin harga nasi telur Rp 25.000 di musim liburan seperti ini, mending kalian liburannya ke Waterboom aja deh, yang bisa bawa mie instan,” sindir seorang netizen di X.
Dikutip dari infoJogja (1/1), Kepala UPT Malioboro, Fitria Dyah Anggraeni, memberi tanggapan akan cuitan viral tersebut. Ia menyebut pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk mengontrol harga makanan yang dijual pelaku usaha.
“Kalau bicara kewenangan, memang kami tidak berada di ranah pengendalian harga. Tapi dari Dinas Pariwisata sudah melakukan sosialisasi kepada pelaku usaha kuliner agar mencantumkan daftar harga sebagai mitigasi,” kata Anggi.
Anggi menambahkan, imbauan kepada wisatawan juga rutin disampaikan melalui pos Tourist Information Services (TISA) agar selalu memastikan harga sebelum memesan makanan. UPT Malioboro juga mendorong wisatawan memilih tempat makan yang harga menunya jelas.
“Teman-teman Dinas Pariwisata yang berjaga di TISA juga selalu mengingatkan wisatawan untuk memastikan harga makanan. Kami juga mengimbau agar makan di resto atau penjual di kawasan Malioboro yang sudah jelas dan pasti daftar harganya,” ujarnya.
Baginya, harga Rp 85 ribu untuk 3 porsi nasi gudeg lauk telur dan es teh manis, masih normal. “Kayaknya itu masih normal ya, tapi ya memang mungkin beda-beda ya. Kalau dia ke Gudeg Yu Djum kan bisa lebih syok lagi harganya. Mungkin kan secara harapannya mereka mendapatkan Jogja image murah,” katanya.
Andi, pengelola salah satu rumah makan gudeg di Jogja, memberi pendapat dari sisinya. Ia menilai harga Rp 85 ribu untuk tiga porsi gudeg telur dan es teh tergolong mahal jika dijual di warung pinggir jalan.
“Kalau dihitung, tiga porsi gudeg telur sekitar Rp 60 ribu. Es teh biasanya paling mahal Rp 5 ribu. Kalau sampai Rp 85 ribu, menurut saya mahal,” katanya.
Pendapat tambahan diberikan oleh Dika, seorang pegawai rumah makan gudeg di Jogja. Ia mengatakan persoalan harga harus dipahami dari 2 sisi, yaitu penjual dan pembeli.
“Penjual sebaiknya menuliskan harga dan keterangan menu secara jelas, termasuk bahan yang digunakan. Supaya pembeli tidak kecewa. Di sisi lain, pembeli juga perlu bertanya jika harga tidak tercantum,” ujarnya.
Dika menjelaskan, perbedaan bahan seperti penggunaan telur ayam atau telur bebek, serta ayam kampung atau ayam negeri, berpengaruh pada pembentukan harga gudeg.
“Jadi intinya kedua sisi secara dewasa juga harus melakukan penerapan pertukaran info yang tepat, itu aman. Kalau nggak ya akan jadi ada masalah,” tutupnya.
Artikel ini sudah tayang di infoJogja dengan judul
Kata pegawai rumah makan gudeg soal harga Rp 85 ribu

Andi, pengelola salah satu rumah makan gudeg di Jogja, memberi pendapat dari sisinya. Ia menilai harga Rp 85 ribu untuk tiga porsi gudeg telur dan es teh tergolong mahal jika dijual di warung pinggir jalan.
“Kalau dihitung, tiga porsi gudeg telur sekitar Rp 60 ribu. Es teh biasanya paling mahal Rp 5 ribu. Kalau sampai Rp 85 ribu, menurut saya mahal,” katanya.
Pendapat tambahan diberikan oleh Dika, seorang pegawai rumah makan gudeg di Jogja. Ia mengatakan persoalan harga harus dipahami dari 2 sisi, yaitu penjual dan pembeli.
“Penjual sebaiknya menuliskan harga dan keterangan menu secara jelas, termasuk bahan yang digunakan. Supaya pembeli tidak kecewa. Di sisi lain, pembeli juga perlu bertanya jika harga tidak tercantum,” ujarnya.
Dika menjelaskan, perbedaan bahan seperti penggunaan telur ayam atau telur bebek, serta ayam kampung atau ayam negeri, berpengaruh pada pembentukan harga gudeg.
“Jadi intinya kedua sisi secara dewasa juga harus melakukan penerapan pertukaran info yang tepat, itu aman. Kalau nggak ya akan jadi ada masalah,” tutupnya.
Artikel ini sudah tayang di infoJogja dengan judul




