Di balik kesukesan warung mie hokkien yang populer ini, ada seorang pria yang menghabiskan waktu 20 tahun bekerja merantau ke negara orang. Begini kisah suksesnya!
Para pebisnis kuliner punya jalan tersendiri menuju kesuksesan. Beberapa mungkin sudah punya modal awal besar dalam hal biaya dan keahlian, tetapi banyak juga yang harus memulainya dari nol.
Salah satu yang memulai semuanya dari awal adalah pria asal Ipoh, Malaysia ini. Ia adalah pemilik warung mie hokkien goreng yang populer. Namun bisnis kulinernya tidak langsung sukses karena pria tersebut perlu bertahun-tahun bekerja dan belajar di negeri orang.
Warung mie hokkien goreng ini awal mulanya diketahui usai seorang blogger kuliner merekomendasikannya. Ia menyebut warung tersebut sering penuh di pagi hari. Pelanggan pun setidaknya perlu menunggu setengah jam.
Lalu perwakilan Shin Min Daily News mampir ke warung tersebut dan menemukan warungnya memang ramai pengunjung. Di sanalah sosok di balik kesuksesan warung ini diketahui.
Warung mie hokkien goreng ini milik pria bernama Lian Sun De mulai yang kini berusia 53 tahun. Lian Sun De merupakan pria yang dibesarkan di Ipoh. Ia juga sudah mulai belajar memasak sejak usianya 12 tahun, lapor stomp.sg (5/1).
Di usia 29 tahun, Lian Sun De pindah ke negara lain, tepatnya ke Singapura. Keputusannya merantau ia lakukan atas rekomendasi dari seorang teman.
Sejak usia 29 tahun hingga 21 tahun setelahnya, Lian Sun De bekerja di Singapura dari satu tempat makan ke tempat makan lainnya. Mulai dari warung sup jeroan babi, restoran teochew, dan katering makanan peranakan bernama Chilli Api.
Di Singapura juga Lian bertemu dengan istrinya, yang kemudian istrinya kembali ke Ipoh untuk melahirkan dan membesarkan putra mereka. Sedangkan Lian tetap tinggal di Singapura saat itu untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tahun 2017, ketika putranya sudah masuk ke sekolah menengah, Lian memutuskan balik ke kampung halaman. Sekembalinya dari Singapura, Lian sadar hanya ada sedikit warung mie hokkien ala Singapura di kota tersebut. Terlebih yang racikannya otentik.
Dari situlah ia mulai memiliki ide untuk membuka warung mie hokkien ini. Lian mengaku saat bekerja di Singapura ia sangat suka makan mie hokkien goreng sampai-sampai dirinya mencoba makan di banyak warung.
Dari pengalamannya tersebut, Lian lalu secara bertahap mengembangkan resep mie hokkien goreng sendiri.
Mie hokkien goreng umumnya terdiri dari mie kuning tebal yang digoreng dalam kaldu udang dan babi kaya rasa. Lalu mie ini disajikan dengan cabai dan jeruk nipis di sampingnya.
Menurut Lian, ciri khas mie hokkien goreng ala Singapura terdapat pada kuahnya. Lian menyiapkan kuah sendiri pada malam sebelum restoran dibuka. Pria ini merebus kuah dengan api kecil secara perlahan hingga subuh. Barulah keesokan harinya digunakan untuk menggoreng mie.
Bisnis kulinernya juga tidak langsung sukses. Lian dihadapi dengan persaingan lokal yang ketat. Awal-awal buka, dirinya hanya mampu menjual 20 hingga 30 porsi per hari. Namun Lian tidak putus asa dan tetap gigih.
Melalui promosi dari mulut ke mulut hingga di berbagai media sosial warungnya secara perlahan mendapat banyak perhatian dari pelanggan. Kini warung mie hokkien gorengnya telah sukses dan hanya butuh waktu tiga atau empat jam bagi Lian untuk berhasil menjual hampir 100 porsi.
Untuk menyesuaikan dengan selera warga Ipoh, Lian mengaku melakukan lima perubahaan dari resep asli Singapura. Di Singapura mie ini cenderung manis, tetapi ia mengubah agar rasanya lebih asin dan kaya.
“Jika saya membuatnya persis seperti rasanya di Singapura, orang-orang di sini mungkin tidak akan bisa menerimanya,” ujarnya.
Lian menawarkan tiga pilihan mie, yaitu mie kuning, lai fun (mi Tiongkok tradisional yang terbuat dari tepung beras), dan mie beras tradisional. Toppingnya juga ada udang, cumi, dan babi.
Lian menghilangkan lemak babi karena menurutnya pilihan tersebut tidak disukai masyarakat setempat. Tauge juga dihilangkan karena dapat mengalahkan rasa manis dari kaldu udang, sehingga hanya daun bawang yang dipakai.
Alih-alih sambal cabai seperti di Singapura, Lian menggantinya dengan sambal belacan buatan sendiri. Ia juga menawarkan versi yang lebih pedas.
Warung mie hokkiennya pun tidak hanya disukai warga lokal, melainkan banyak juga penduduk Ipoh yang pernah bekerja di Singapura termasuk komunitas India makan di warung tersebut.
Para pelanggan yang pernah bekerja di Singapura mengaku puas makan di warungnya karena bisa mengobati rindu. Pelanggan lain yang baru pertama kali mencoba juga merasa cita rasa mie hokkien yang ditawarkan Lian sangatlah enak dan berbeda.
Saksikan Live infoSore :






